Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Kemacetan Jakarta
Dream - Jakarta kembali masuk radar dunia. Usai dua gelar kurang menyenangkan, kota termacet dan tak aman di dunia, Jakarta lagi-lagi mendapatkan kabar buruk.
Lembaga Center for Economic and Business Reseach (CEBR) menempatkan Jakarta di kelompok terbawah sebagai kota berkelanjutan di dunia.
Namun, ibukota negara ini masih bisa sedikit bernapas lega. Posisi Jakarta masih lebih baik dibandingkan Ibukota India, New Delhi.
Mengutip laporan 2015 ARCADIS Sustainable Cities Index, Kamis, 12 Februari 2015, Jakarta berada di peringkat 46 dari 50 kota yang dinilai CEBR. Posisi Jakarta lebih baik dari Mumbai, India yang berada di peringkat 47 dan Wuhan, China di posisi 48 dunia.
Kota paling tak lestari di dunia tahun ini dihuni oleh ibukota Kenya, Nairobi dan New Delhi India.
Arcadis mendefinisikan sustainability sebagai pembangunan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengganggu generasi masa depan. Dalam hal ini, sebuah kota dinilai kemampuannya dalam melayani penduduknya tanpa menimbulkan masalah bagi mereka maupun penduduk dunia di masa depan.
Penilaian indeks kali ini menggunakan tiga kategori penilaian yaitu People, Planet, dan Profit. Ketiga kategori tersebut dijabarkan kedalam 20 indikator dengan 5 kunci utama yaitu ekonomi, bisnis, risiko, infrastruktur, dan keuangan.
Dari penilaian itu, CEBR menilai tak ada satupun kota di dunia yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Pemimpin negara diharapkan bisa mengelola tiga pilar kelestarian kotanya masing-masing.
"Dunia kita berubah lebih cepat dari sebelumnya. Pengembangan teknologi, pertumbuhan populasi, dan ekonomi global membuat batas negara menjadi tak relevan lagi,' kata Global Cities Director dari ARCADIS, John Batten.
Hasil studi menunjukan kota-kota besar di dunia saat ini lebih fokus pada masalah profit dan lingkungan daripada kehidupan sosial.
Banyak kota kekuatan ekonomi dunia kini menjadi sulit terjangkau masyarakat. Dunia juga menghadapi masalah ketimpangan antara negara dengan pendidikan tinggi dengan kesimbangan antara hidup dan pekerjaan.
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mau Nonton Grand Final AXIS Nation Cup 2026? Ini Cara Daftar dan Datang ke Istora Senayan

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS