6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Sri Mulyani (IG)
Dream - Sri Mulyani Indrawati mengatakan total pegawai Kementerian Keuangan yang meninggal dunia akibat Covid-19 mencapai 71 orang. Jumlah ini terdiri dari beberapa unit kerja.
" Jumlah yang meninggal di Kemenkeu hari ini sudah naik, 71 orang meninggal di jajaran Kemenkeu," kata Sri Mulyani, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 10 Juni 2021.
Menteri Keuangan itu sebelumnya mengaku sedih karena dampak pandemi Covid-19 di Indonesia sudah memakan bayak korban jiwa, termasuk anak buahnya. Tercatat selama 14 bulan lebih pandemi berlangsung, sebanyak 67 orang dari jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjadi korban jiwa.
" Covid-19 telah menelan korban 67 jiwa dari jajaran Kemenkeu," kata Sri Mulyani seperti dikutip dari laman instargamnya @smindrawati, Sabtu 22 Mei lalu.
Meski begitu, total kasus positif Covid-19 dan tingkat kesembuhanya berada di lingkungan Kemenkeu sudah mencapai sebanyak 3.546. Kemenkeu terus melakukan protokol kesehatan termasuk melakukan testing, pelacakan dan perawatan yang terpapar virus Covid-19.
Dream – Setiap tanggal 21 April masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, turut memperingati hari lahir dari pejuag emansipasi perempuan Indonesia, Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini itu.
Dikutip dari akun Instagramnya, @smindrawati, Rabu 21 April 2021, Sri Mulyani mengunggah foto kolase dirinya, sang ibu, serta sang putri dalam satu bingkai. Foto tersebut disertakan dengan caption berisi tentang perjuangan Kartini yang membuka kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk menikmati pendidikan.
“ Perjuangan dan pemikiran RA Kartini, membuka kesempatan bagi perempuan generasi Ibu saya, perempuan generasi saya dan perempuan generasi yang akan datang untuk dapat menikmati pendidikan hingga jenjang tertinggi,” tulis Sri Mulyani.
Dengan begitu, perempuan bisa ikut andil dalam membangun peradaban dan berpartisipasi dalam pendidikan anak-anaknya serta ikut memajukan bangsa.
“ Selamat menjaga dan memelihara semangat juang Kartini, untuk Indonesia yang beradab, bermartabat, berpendidikan, adil, dan makmur,” tulis dia.
Tak hanya itu, Sri Mulyani juga mengunggah surat RA Kartini kepada N.v.Z. Surat ini dimuat dalam Kolonial Weekblad (Mingguan Kolonial) yang tertanggal 25 Desember 1902.
“ Dari Kartini ke Ibu kami dan ke generasi kini dan kedepan. Bahkan seratus tahun lebih sebelum Millenium Development Goals (MDG) dan Sustainable Development Goals (SDG) dideklarasikan - Kartini telah memperjuangkan. Surat Kartini kepada N.v.Z. dimuat dalam Kolonial Weekblad (Mingguan Kolonial) tertanggal 25 Desember 1902,” tulis Sri Mulyani.
Surat ini berisi tentang harapan Kartini agar perempuan bisa terbebas dari kungkungan adat. Dia juga mengharapkan perempuan juga bisa naik derajatnya.
“ Harapan kami : tolonglah, bantulah kami agar usaha kami berguna bagi bangsa kami dan terutama bagi kaum perempuan bangsa itu.
Tolonglah kami untuk membebaskannya dari
beban berat yang diletakkan di atas bahunya oleh adat lama turun temurun. Tolonglah kami untuk menaikkan derajatnya, untuk menjadikan Perempuan dan Ibu sejati agar lebih siap menjalankan kewajiban yang besar. Kewajiban yang ditetapkan oleh ibu alam sendiri kepada perempuan yaitu : pendidik pertama umat manusia!
Bukan tanpa alasan orang mengatakan: kebaikan dan kejahatan diminum anak bersama air susu ibu. Kami yakin seyakin-yakinnya, bahwa pekerjaan yang mendatangkan banyak berkah itu tidak akan dapat maju dengan pesat, selama perempuan Jawa tidak mengambil bagian dalam pekerjaan peradaban, dalam Pendidikan bangsanya, betapa pun banyaknya orang-orang kulit yang berbudi luhur mencurahkan segala kasih sayang dan tenaganya terhadap pekerjaan itu...”
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
