Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Aset Bank Syariah Dunia Tembus Rekor

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 20 Mei 2014 13:45
Aset Bank Syariah Dunia Tembus Rekor
Ernst & Young's optimistis laba bank syariah pada 2018 bakal menembus US$ 25 miliar jika laju pertumbuhan yang tercapai selama ini dapat dipertahankan.

Dream - Aset perbankan syariah dunia diproyeksikan bakal menembus angka US$ 3,4 triliun dalam tiga tahun ke depan. Maraknya aktivitas ekonomi di pasar keuangan Islami menjadi pemicu utama pertumbuhan tersebut.

Menurut laporan Ernst & Young's Global Islamic Banking Center, Selasa, 20 Mei 2014, laba industri keuangan syariah dari enam poros pertumbuhan dunia untuk pertama kalinya menebus US$ 10 miliar pada 2013. Keenam poros itu adalah Qatar, Indonesia, Saudi Arabia, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki atau disingkat QISMUT.

EY yakin laba bank syariah bakal menembus US$ 25 miliar pada 2018 jika laju pertumbuhan mampu terjaga dengan baik.

" Meski angka pertumbuhan laba bank syariah impresif dengan rata-rata 15-19%, pencapaian ini masih lebih rendah dibandingkan bank konvensional," ujar Global Islamic Finance Leader EY, Ashar Nazim seperti dikutip laman Zawya, Selasa, 20 Mei 2014.

Industri perbankan syariah memang memiliki potensi cukup signifikan. Saat ini tercatat lebih dari 38 juta masyarakat dunia yang melakukan transakai lewat bank syariah.

Sayangnya, nasabah yang benar-benar telah mengalihkan sepenuhnya transaksi dari bank konvensional ke syariah masih sangat minim.

Rata-rata jumlah produk perbankan syariah terhadap nasabah saat ini baru mencapai dua jenis. Sementara bank konvensional rata-rata bisa menembus angka lima produk per nasabah.

" Membangun kepercayaan konsumen lewat pelayanan terbaik dapat meningkatkan pangsa pasar bank syariah hingga 40 persen," kata Ashar.

Peluang lain yang perlu digali bank syariah adalah bisnis usaha kecil menengah (UKM).

" Dengan meningkatnya perdagangan antara Turki, negara Timur Tengah, dan Asia Pasifik, ada minat besar dari investor dan klien terhadap solusi keuangan Islami," ujar MENA Head of Financial Service EY, Gordon Bennie.

Beri Komentar