Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Pengusaha Tempe (Shutterstock.com)
Dream – Melambungnya harga minyak goreng membuat pengusaha keripik tempe di pusat oleh-oleh Sanan, Malang, Jawa Timur, kelimpungan. Mereka harus mengurangi produksi karena harga minyak semakin mahal.
“ Yang jelas omzet kami turun drastis, sampai 50 persen,” kata salah satu pengusaha keripik tempe Sanan, Marjito, saat berbincang dengan Dream.co.id, Sabtu 4 Desember 2021.
Sebelum harga minyak naik, saban hari Marjito biasanya mampu memproduksi 40 kg hingga 50 kg keripik tempe. Namun setelah harga minyak naik, Marjito hanya menggoreng keripik tempe 25 kg hingga 30 kg saja.
“ Tidak bisa banyak-banyak karena sangat berat untuk membeli minyak goreng,” tambah dia. Sebelumnya, harga minyak goreng berkisar Rp17 ribuan. Namun kini naik menjadi hampir Rp22 ribuan.

Sebenarnya, dua bulan lalu Marjito dan pengusaha lain di Sanan telah mengadukan nasib mereka ke pemerintah setempat. Mereka curhat meminta pemerintah ikut memberikan solusi.
“ Kami sudah ke Dinas Perindustrian, tapi belum ada tanggapan,” ujar Marjito.
Marjito dan kawan-kawananya tidak muluk-muluk, mereka hanya meminta pemerintah membuat harga-harga stabil. Sehingga pengusaha kecil seperti Marjito tidak mengalami kesulitan dalam berproduksi.
“ Kalau seperti sekarang kondisinya, bagi kami sangat berat,” kata pemilik keripik tempe merek Delima itu.
Meski sulit, Marjito enggan menurunkan kualitas keripik tempenya. Dia tetap menggunakan minyak terbaik meski harganya mahal. Bagi dia, kualitas nomor satu.
“ Untuk solusi sementara, kami menaikkan haraga jual 10 persen. Itu kami lakukan setelah melakukan survei kepada para pelanggan. Akhirnya kami sepakat menaikkan harga dengan menjaga kualitas,” papar Marjito.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya