Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
Perusahaan Memiliki Melakukan Tren Pengurangan Pegawai Secara Dalam Porsi Kecil Daripada Masif (FOTO: Shuttetstock)
DREAM.CO.ID – Lanskap ketenagakerjaan global tengah mengalami pergeseran signifikan menuju fenomena yang disebut sebagai " forever layoff" atau PHK abadi. Berdasarkan data terbaru, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) skala kecil kini menjadi metode pemangkasan yang paling dominan dilakukan perusahaan. Sebuah tren yang diprediksi akan terus memicu kecemasan pekerja hingga tahun 2026.

Laporan menunjukkan bahwa PHK skala kecil yang melibatkan kurang dari 50 individu telah meningkat secara konsisten dari 38% total kejadian PHK pada tahun 2015 menjadi 51% pada tahun 2025.
Perusahaan kini lebih memilih melakukan pemangkasan karyawan dalam jumlah kecil namun rutin. Metode yang menggantikan strategi lama berupa pemangkasan massal yang jarang namun besar.
Para peneliti menyebut strategi ini sebagai " forever layoff" karena pemangkasan tenaga kerja datang dalam " gelombang yang tidak pernah berakhir," berbeda dengan " tsunami" PHK massal yang terjadi sekaligus.
Meskipun PHK massal memiliki dampak langsung terhadap peringkat perusahaan di situs ulasan seperti Glassdoor, metode PHK bergulir ini menciptakan dampak psikologis yang berbeda namun kronis.
Berdasarkan data pemberitahuan WARN Act, undang-undang yang mewajibkan perusahaan mengumumkan penutupan dan PHK, proporsi PHK di bawah 50 pekerja mendominasi laporan saat ini.
Angka 51% pada tahun 2025 ini bahkan kemungkinan lebih rendah dari realitas di lapangan, mengingat peraturan di tiap negara sering kali tidak mewajibkan pelaporan resmi untuk PHK skala kecil.
Analisis terhadap ulasan di Glassdoor memberikan gambaran nyata mengenai dampak tren ini. Karyawan melaporkan perasaan tidak aman yang semakin tinggi terhadap pekerjaan mereka.
Frekuensi penyebutan istilah " PHK" dan " ketidakamanan kerja" dalam ulasan karyawan pada akhir 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan saat awal pandemi pada Maret 2020.
Konteks pasar tenaga kerja saat ini semakin memperburuk situasi bagi pekerja yang terdampak. Setelah lonjakan PHK pada 2020 dan level rendah sepanjang sejarah pada 2021-2022, jumlah pekerja yang diberhentikan setiap bulan kini kembali merangkak naik ke level tahun 2010-an. Para pekerja yang terkena dampak kini harus mencari pekerjaan di tengah pasar perekrutan yang sedang lesu (low-hire market).

Pengamat menilai perusahaan melihat " forever layoff" sebagai cara untuk memangkas biaya gaji tanpa menarik perhatian media atau memicu reaksi negatif publik (backlash). Namun, strategi ini dinilai tidak efektif dalam menjaga mental karyawan.
Meskipun PHK serial ini mungkin luput dari radar berita utama, karyawan yang tersisa menyadari pola tersebut. Mereka yang bertahan sering kali harus menanggung beban kerja tambahan sembari dihantui pertanyaan apakah mereka akan menjadi giliran berikutnya.

Beban psikologis dari " forever layoff" ini diperkirakan akan merusak mental pekerja dan budaya perusahaan secara signifikan pada tahun 2026 dan seterusnya.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya