Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Dream - Saat membuka lowongan pekerjaan, perusahaan diharapkan meninggalkan kesan yang baik bagi para pelamar. Masalahnya, kesan baik adalah sebagian dari usaha branding bagi perusahaan.
Dari survei yang dilakukan LinkedIn terhadap 600 pekerja profesional di Uni Emirat Arab, mayoritas responden (86 persen) yang mencari pekerjaan, tidak menerima kabar apa pun dari perusahaan tempat mereka melamar setelah dilakukan wawancara.
Padahal mayoritas (94 persen) berharap mendapat umpan balik dari perusahaan. Hanya 41 persen responden yang mengaku mendapat follow-up dari perusahaan setelah menjalani wawancara.
Memperlakukan pelamar kerja dengan baik adalah sangat penting. Sebab, 87 persen pekerja profesional yang sebelumnya tidak tertarik melamar pekerjaan akan berubah pikiran karena mendapat umpan balik setelah wawancara.
" Kesan pertama sangat berperan, dan ini adalah momen penting bagi hubungan antara perusahaan dan calon karyawan," kata Ali Matar dari LinkedIn wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) yang dikutip dari Gulf News, Jumat, 26 Juni 2015.
Survei terdahulu yang dilakukan CareerBuilder memperlihatkan bahwa calon karyawan yang mendapat pengalaman buruk saat melamar kerja mengaku tidak tertarik lagi mencari peluang kerja di perusahaan yang sama.
'Barisan sakit hati' ini bahkan akan melarang teman-temannya untuk membeli atau menggunakan jasa dan produk perusahaan tersebut.
" Di era ini, calon karyawan mengharapkan ada komunikasi yang berkelanjutan dari perusahaan tempat mereka melamar pekerjaan. Dan jika perusahaan gagal melakukannya, akan menjadi bisnis yang buruk," kata Rosemary Haefner, Kepala Humas CareerBuilder.
Masih dari survei LinkedIn, 83 persen responden mengatakan mereka akan merasa kecewa jika wawancara tidak memenuhi harapan mereka, bahkan jika mereka menyukai perusahaan itu.
Lebih dari setengah atau 53 persen responden mengatakan mereka menganggap pertemuan pertama dengan calon manajer mereka sebagai interaksi yang paling penting selama proses wawancara.
Terkait umpan balik dari perusahaan, 77 persen responden berharap dihubungi lewat telepon saat menerima kabar diterima di perusahaan. Sedangkan 65 persen lebih memilih dikirim email ketika menerima kabar buruk.
Uniknya, para pelamar kerja tidak suka dihubungi di luar jam kantor atau saat mereka sedang liburan akhir pekan.
Uang juga menjadi faktor menerima atau menolak pekerjaan. Sekitar 56 persen responden akan menerima atau menolak pekerjaan berdasarkan pada paket gaji yang ditawarkan. Sementara yang lainnya (30 persen) menerima atau menolak pekerjaan berdasarkan pada perkembangan karir dan 30 persen pada keseimbangan antara kerja-keluarga.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya