Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Pixabay.com
Dream - Krisis ekonomi kian nyata. Di Inggris, menurut penelitian terbaru, diperkirakan hampir sebelas juta orang menunggak tagihan listrik. Sementara, lebih lima juta orang memilih tidak makan hanya untuk membayar tagihan listrik.
Dikutip dari laman The Guardian, Selasa 27 September 2022, laporan lembaga amal Money Advice Trust memperkirakan 20 persen penduduk dewasa Britania Raya, atau sekitar 10,9 juta orang, kini menunggak salah satu tagihan rumah tangga mereka. Angka itu naik tiga juta sejak maret silam.
Data yang diperoleh dari survei yang dilakukan terhadap 2.000 responden orang dewasa di Britania Raya pada Agustus silam itu juga menemukan fakta bahwa 5,6 juta orang di negeri itu kehabisan makanan dalam tiga bulan terakhir karena tingginya biaya hidup.
Bahkan banyak warga yang memilih tidak makan sama sekali dalam satu hari atau beberapa hari atau hanya makan sekali sehari.
Hampir delapan juta orang telah menjual barang pribadi atau peralatan rumah tangga untuk membantu menutupi tagihan.
Menurut Joanna Elson, kepala eksekutif Money Advice Trust, jaminan pemerintah soal harga energi membuat sebagian orang merasa lega, tapi jutaan lainnya sudah terlanjur menderita.
" Banyak rumah tangga menghadapi pilihan yang tidak masuk akal, seperti memilih antara makan atau listrik," Elson.
Dia meminta pemerintah menggunakan anggaran untuk membantu warga berpenghasilan rendah. Kini banyak rumah tangga yang tidak punya cara lagi untuk menyiasati melambungnya harga-harga kebutuhan hidup.
Sekitar 41 persen warga sudah memangkas pengeluaran yang tidak penting. Jumlah itu naik tujuh persen sejak Maret silam. Riset ini juga menunjukkan bahwa harga energi yang selangit membuat warga tak mampu lagi bertahan.
Dalam survei itu juga diketahui bahwa sekitar 10,7 juta warga mengalami lonjakan tagihan energi sebesar 100 poundsterling atau sekitar Rp1,7 juta atau bahkan lebih sejak April lalu.
Satu dari sembilan orang mengatakan tagihan energi mereka sudah menunggak. Lantaran pemasok energi telah meningkatkan juga biaya energi, mencapai angka yang tidak sanggup mereka bayar.
Naiknya harga energi berarti makin banyak orang yang perlu meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan.
Dengan adanya lonjakan biaya energi ini, Money Advice Trust memperkirakan lebih dari 15 juta orang memakai kartu kredit untuk membayar kebutuhan pokok, naik 2,1 juta orang sejak Maret lalu.
Sementara satu dari sepuluh orang meminjam uang dari keluarga atau teman mereka.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya