Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Jack Ma Punya Alasan Untuk Tidak Merekrut Orang-orang "terbaik" Dan Lulusan Sekolah Bisnis. (Foto: CNBC)
Dream – CEO Alibaba, Jack Ma, ogah merekrut kandidat terbaik untuk sebuah posisi di Alibaba. Mengapa?
Dilansir dari Next Shark, Minggu 29 Juli 2018, Ma tidak ingin mempekerjakan orang yang lulus dari sekolah bisnis. Dia berpendapat belajar bisnis di sekolah itu tidak penting dan lulusannya kebanyakan tidak bermanfaat.
“ Kecuali kalau mereka kembali dari sekolahnya dan melupakan apa saja yang dipelajari di sekolah,” kata dia dalam buku Alibaba: The House That Jack Ma Built.
Mantan guru bahasa Inggris ini mengatakan sekolah mengajarkan ilmu, sedangkan bisnis memerlukan kebijaksanaan.
“ Kebijaksanaan didapat dari pengalaman. Ilmu bisa didapat dari kerja keras,” kata dia.
Ma juga berpendapat, tim kerja yang bagus bukanlah tim yang anggotanya berasal dari universitas ternama, atau orang-orang yang dulu pernah bekerja di perusahaan yang tembus daftar 500 perusahaan kelas dunia Fortune.
Dia bercerita, pernah mempekerjakan seorang pakar pemasaran dari perusahaan besar untuk membuat rencana pemasaran. Ketika itu, Alibaba “ naik kelas” dari yang bermodal US$50 ribu (Rp721,36 juta) menjadi US$5 juta (Rp72,13 miliar). Tapi, sang pakar itu membuat rencana bisnis yang senilai US$12 juta (Rp17,31 miliar).
“ Dan saya berkata, ‘Hei, kita hanya punya uang US$5 juta. Bagaimana bisa kamu memberi rencana bisnis yang bujet pemasarannya US$12 juta?’. Dia (pakar) itu berkata, ‘Jack, saya tak pernah membuat rencana bisnis (yang bujetnya) di bawah US$20 juta (Rp28,85 miliar),” kenang Ma.
Dari sini, Ma tersadar bahwa yang terpenting adalah menjaring orang yang tepat. Orang yang terbaik justru didapat dari orang-orang yang dilatih.
“ Tak ada ‘orang terbaik’ di pasar. Orang terbaik adalah orang yang selalu kamu latih,” kata dia. (ism)
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?