Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan
Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah
9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengakui jaminan halal tak lagi sekadar memenuhi kebutuhan muslim. Jaminan halal telah berkembang menjadi gaya hidup.
Perkembangan tersebut ternyata menarik perhatian negara-negara non-Muslim. Potensi ekonomi yang begitu besar membuat negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan tertarik menggarap pasar halal.
" Halal ini berupa perlindungan dan penjagaan umat Muslim dari konsumsi barang-barang yang tidak halal," kata Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin, dalam acara 'Indonesia International Halal Lifestyle' di Jakarta, Kamis, 6 Oktober 2016.
Ma'ruf menjelaskan, jaminan halal kini tak lagi melulu di produk makanan dan minuman. Halal telah berkembang ke sektor lainnya, seperti fesyen, obat-obatan, dan keuangan.
" Saat ini, halal tidak hanya melindungi, tetapi mengarah kepada bisnis, business opportunity," kata dia.
Populasi Muslim di dunia diperkirakan mencapai 1,8 miliar jiwa dengan jumlah kelas menengah mencapai 600 juta orang. Jumlah tersebut menjadikan komunitas Muslim menjadi pasar yang menggiurkan.
Menurut catatan Kementerian Perindustrian, potensi pasar halal cukup besar. Pada 2014, pasar halal global mencatatkan nilai perputaran uang sebesar US$2,3 miliar, setara Rp29 triliun dan dipercaya akan terus berkembang. Pada 2019, pasar ini diprediksi akan tumbuh menjadi US$3,7 triliun, setara Rp48.053 triliun.
Ma'ruf mencontohkan, Korea Selatan mulai merambah bisnis laundry halal. Ketika ada barang non-halal masuk ke dalam pencucian mereka, mesin-mesin dan kontainer akan langsung dicuci.
" Kalau terkena najis mugholadloh (najis berat), mereka juga akan mencuci mesin dan kontainer mereka dengan debu. Sayangnya, debu yang dipakai itu debu dari Malaysia. Kita (Indonesia) belum bisa memproduksinya," kata dia.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan

Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes