Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi.
Dream - Pemerintah akan mengubah skema pemberian beras miskin (Raskin) dengan sistem voucher pangan. Dengan voucher ini, masyarakat miskin tidak hanya bisa membeli Raskin, tapi juga bahan pangan lainnya.
" Inginnya, sih, tahun ini sudah direalisasikan." kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Raden Harry Hikmat, di kantor Merdeka.com, Rabu 26 Mei 2016.
Harry menjelaskan, skema voucher pangan ini masih dikonsolidasikan di Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Sebab, masih banyak hal yang harus diselesaikan pembahasannya.
" Mulai data penerima. penyediaan pangannya, provider penyedia pangannya, dan vouchernya," kata Harry.
Selain beras, lanjut Harry, masyarakat miskin nantinya juga bisa membeli bahan pangan seperti daging, susu, dan biskuit. Pemerintah sendiri akan menentuan jenis-jenis komoditas yang bisa dibeli dengan voucher ini.
" Namanya juga pangan. Tapi, (komoditas pangan yang bisa dibeli) belum pasti," kata dia.
Meski bisa bebas berbelanja, voucher pangan ini tidak bisa dibelanjakan di sembarang tempat. Masyarakat miskin bisa membeli pangan di tempat-tempat yang telah ditentukan pemerintah.
" Misalnya, dia dapat voucher pangan dan ada nilai rupiah tertentu di dalamnya. Dia bisa beli pangan di warung, di toko kelontong," kata dia.
Sekadar informasi, pemerintah ingin memberikan gizi yang lebih seimbang bagi masyarakat miskin di Indonesia. Konsep voucher pangan ini akan diberikan dengan nilai tertentu setiap bulannya.
Dilansir dari merdeka.com, Deputi III Kantor Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari, memastikan akan ada proses registrasi yang layak. Selain itu, diharapkan akan ada banyak pedagang yang berpartisipasi sebagai tempat untuk menukar (redeem) voucher pangan yang dimiliki masyarakat miskin.
" Kami ingin menyeimbangkan gizi warga miskin sehingga tidak hanya mengasup karbohidrat, tetapi juga protein seperti telur," kata Denni di Jakarta, Rabu 18 Mei 2016.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya