Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Bursa Komoditas NYME (http://www.energymaxout.com/)
Dream - Spekulan minyak mentah langsung beraksi menanggapi berita kematian Raja Saudi Abdullah bin Abdulaziz Al Saud. Aksi mereka langsung membuat harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan.
Saudi saat ini memang memegang peran sentral dalam organisasi penghasil minyak dunia, OPEC. Saudi merupakan produsen minyak mentah terbesar dunia.
Mengutip laman Bloomberg, Jumat, 23 Januari 2015, harga minyak mentah dunia di bursa komoditas New York langsung menanjak 3,1 persen. Komoditas yang sama juga melonjak 2,6 persen di bursa London, Inggris.
Harga minyak jenis WTI untuk pengapalan Maret di bursa komoditas NYME tercatat naik US$ 1,45 menjadi US$ 47,76 per barel. Sepanjang pekan ini, harga minyak WTI telah tergerus 3,3 persen.
Sementara itu minyak mentah jenis Brent di pasar ICE Future Europe, London tercatat naik US$ 1,28 menjadi US$ 49,80 per barel.
Analis Sanford C Bernstein & Co yang berbasis di Hong Kong, Neil Beveridge mengatakan wafatnya Raja Abdullah memang akan meningkat ketidakpastian. Volatilitas harga minyak dunia juga akan meningkat dalam jangka pendek.
" Saya perkirakan takkan ada yang tahu perubahan kebijakan dalam jangka pendek, namun wafatnya Raja Abdullah hadir ketika tekanan tengah melanda Arab Saudi," katanya.
Harga minyak dalam setahun terakhir telah terpangkas 50 persen seiring meningkatkan produksi minyak Amerika Serikat dalam tiga dekade terakhir. OPEC sendiri bersikukuh takkan memangkas produksi minyaknya.
" Market bereaksi bullish dengan kabar ini karena kabar ini akan mendoring periode ketidakpastian sepanjang tidak ada kabar terbaru tentang penyerahan kekuasaan," ujar Presiden Lipow Oil Associates LLc, lembaga konsultan energi di Texas, AS, Andy Lipow. (Ism)
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
