Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gautam Adani (Forbes.com)
Dream - Mereka yang kaya raya di berbagai negara selalu saja menarik perhatian. Sebagian dari mereka bukan hanya dari sekadar kaya harta, namun juga kaya hati dan suka berbagi. Sejumlah besar harta mereka digunakan untuk amal atau aktivitas filantropi.
Siapa saja mereka yang kaya rasa dan sangat dermawan? Forbes melaporkan salah satu pendiri platform desain grafis Canva, yakni Melanie Perkins dan Cliff Obrecht tahun 2021 menyumbangkan saham mereka senilai US$26 miliar atau sekitar Rp406,1 triliun untuk mendukung inisiatif amal.
Tak hanya dari miliarder Canva, banyak orang-orang kaya di Asia yang tak segan menyumbangkan hartanya untuk beramal. Seperti Gautam Adani yang merayakan ulang tahun dengan donasi uang sampai miliaran rupiah.
Berikut ini daftar miliarder di Asia menurut daftar Forbes Asia's 2022 Heroes of Philanthropy edisi ke-16 yang paling aktif di bidang filantropi.
Posisi orang terkaya di Indi saat ini dipegang oleh Gautam Adani. Untuk menyambut ulang tahunnya yang ke-60 pada Juni 2022, Gautam berjanji untuk mendonasikan dana sebesar 600 miliar rupee atau US$7,7 miliar.
Donasi ini menjadikannya sebagai salah satu orang kaya paling dermawan di India. Dana yang disumbangkan digunakan untuk perawatan kesehatan, pendidikan, dan pengembangan keterampilan.
" Pada tingkat yang sangat mendasar, program yang terkait dengan ketiga bidang ini harus dilihat secara holistik dan secara kolektif menjadi penggerak untuk membangun India yang adil dan siap menghadapi masa depan," kata dia ketika mengumumkan donasi tersebut.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, salah satu pendiri Canva yakni Melanie Perkins dan Cliff Obrecht rupanya pernah menandatangani inisiatif Giving Pledge, sebuah perjanjian untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka seumur hidup.
Keputusan ini disebut bukan hanya sebagai peluang besar, tetapi tanggung jawab penting. Keduanya memberikan sebagian besar saham mereka di Canva, 30 persen dari total 31 persen saham untuk berdonasi melalui badan amal perusahaan, Canva Foundation.
Miliarder kali ini datang dari Hongkong yang turun membantu menangani masalah perubahan iklim. Merupakan pemimpin perusahaan ekuitas swasta EQT Asia yang berbasis di Hong Kong, yakni Jean Salata, dan istrinya Melanie. Mereka mendonasikan US$200 juta pada Juni 2022 untuk mendirikan lembaga iklim dan keberlanjutan di Universitas Harvard.
Keluarga Salata juga pernah mendonasikan dana sebesar US$5 juta untuk membantu membangun Pusat Teknologi dan Inovasi Salata di Cathedral Prep-Villa Maria di AS, yang merupakan tempat Jean bersekolah.
Selanjutnya ada miliarder asal Australia, Geoffrey Cumming yang memberikan donasi sebesar US$168 juta kepada Universitas Melbourne. Donasi merupakan salah satu sumbangan tunggal terbesar di Australia.
Uang tersebut disalurkan untuk membantu mendanai pusat penelitian terapeutik pandemi di Peter Doherty Institute for Infection and Immunity, Universitas Melbourne.
Miliarder dan filantropis asal India, Shiv Nadar tidak kalah besar dalam inisiatif menyumbangkan dananya. Hampir US$1 miliar dari kekayaannya telah disumbangkan selama beberapa dekade untuk berbagai kegiatan sosial melalui Yayasan Shiv Nadar.
Dia masuk sebagai para pendonor teratas di negara itu. Di tahun 2022, Nadar mendonasikan 11,6 miliar rupee (US$142 juta) kepada yayasan yang dia dirikan pada tahun 1994 itu dengan tujuan menciptakan masyarakat yang adil dengan memberdayakan individu melalui pendidikan.
Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya