Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menjual Pakaian. (Source: Shutterstock)
Dream - Hampir semua industri terkena dampak pandemi Covid-19. Dengan tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan Krisis Moneter 1998, pengusaha harus pintar-pintar beradaptasi dengan keadaan dan strategi khusus menarik pasar serta mengontrol jumlah peminat.
Strategi bisnis serupa juga berlaku bagi pelaku usaha di industri fashion. Dengan pertemuan fisik yang semakin terbatas, para pengusaha ini harus bisa berusaha mempertahankan bisnis fashion di kala pandemi.
Kendala pertemuan fisik tak lantas mematikan bisnis. Banyak strategi bisa dilakukan agar produk tetap bisa diterima konsumen salah satu yang utama adalah penerapan digitalisasi.
" Digitalisasi adalah sebuah keharusan. Bukan beralih 100 persen. Tapi kalau tidak digitalisasi akan ketinggalan. Jadi, brand offline harus lirik ke online," ujar Hanifah Makarim, Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf RI dalam webinar pembukaan acara Modest Fashion Founders Fund (MFFF), baru-baru ini.
Setelah memastikan seluruh bisnis terhubungan dengan dunia digital, langkah berikutnya adalah meningkatkan literasi keuangan. Pelaku usaha harus sudah bisa memisahkan antara keuangan perusahaan dan pribadi.
Faktor lain yang harus jadi perhatian adalah hubungan dengan calon pembeli. " Kalau dulu, mau jualan cukup dengan foto produk. Kalau sekarang harus interaksi, engage," tutur Franka Soeria, Modest Fashion Expert & Co-Founder Markamarie.
Franka pun menyebutkan beberapa media sosial yang sedang digemari seperti Clubhouse dan TikTok.
" Sangat penting untuk punya tim yang melek dengan cara atau media sosial baru, karena dunia akan terus berubah" .
Konsistensi dan evaluasi
Selanjutnya, pelaku usaha harus konsisten untuk bisa mempertahankan bisnisnya. " Dulu, orang berencana jauh-jauh hari. Kalau sekarang orang produksi sangat cepat, fast fashion. Jadi kalau mau sustain, ya harus konsisten," kata Elidawati Ali Oemar, Founder & CEO Elcorps.
Di samping konsisten, ia juga menganjurkan pelaku usaha untuk selalu melakukan evaluasi dan perbaikan. " Jadi dilihat yang baik dan yang nggak diterima konsumen. Harus ada kelanjutan lebih baik dan jangan putus asa," tutupnya.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya