Remaja Alami Emosi Negatif Selama Pandemi, Orangtua Harus Lebih Peka

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 27 Oktober 2020 14:36
Remaja Alami Emosi Negatif Selama Pandemi, Orangtua Harus Lebih Peka
Studi yang ada menunjukkan bahwa anak-anak juga mengalami stres, sedih, takut, dan tidak bahagia di masa pandemi ini.

Dream - Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan secara psikologis dalam situasi pandemi seperti sekarang. Mereka tak bisa sekolah, bermain dengan bebas yang sangat dibutuhkan bagi tumbuh kembangnya, belum lagi merasakan kecemasan dari orang sekeliling karena pandemi.

Tak seperti orang dewasa, saat anak tertekan, stres, cemas atau kondisi psikologisnya tak stabil, ia akan kebingungan. Sikapnya jadi sangat berbeda, mungkin jadi sulit diatur, tak mau berkomunikasi, lebih suka menyendiri tapi tak bisa menggambarkan perasaannya secara gamblang.

Untuk itu dalam situasi sekarang dibutuhkan kepekaan dari orangtua untuk memahami perasaan anak. Dwi Hastuti, Kepala Divisi Perkembangan Anak Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (IKK-Fema), IPB University menjelaskan dalam situasi pandemi seperti sekarang orangtua bisa menerapkan pengasuhan authoritative.

Gaya pengasuhan ini dinilai paling ideal karena seimbang antara kasih sayang, ekspresi emosi positif (responsiveness) orang tua dengan tuntutan disiplin (demandingness) dari orangtua. Ayah dan ibu juga harus konsisten untuk memberikan kasih sayang, perhatian, penjelasan, berkomunikasi positif, serta tuntutan peraturan yang jelas pada anak.

“ Pada masa-masa sulit, orangtua harus sangat sensitif, karena studi yang ada menunjukkan bahwa anak-anak juga mengalami stres, sedih, takut, dan tidak bahagia di masa pandemi ini,” ungkap Dr. Dwi, dikutip dari rilis yang diterima Dream.co.id.

 

1 dari 6 halaman

Penting membangun lingkungan keluarga yang kondusif, penuh kehangatan, rasa saling menghormati, dan saling percaya antara pasangan suami istri. Menurut Dr. Dwi, hal itu merupakan kunci kebahagiaan keluarga yang dibutuhkan buah hati, karena anak adalah “ sang peniru ulung”.

Ibu dan anak© Shutterstock

“ Kondisi lingkungan keluarga yang harmonis adalah dasar utama pembentukan anak, sehingga keluarga mampu memberikan Attention-Bonding-Communication (ABC of parenting), yang disertai dengan Role Modelling (keteladanan) untuk menumbuhkan anak-anak berkualitas,” jelasnya.

 

2 dari 6 halaman

Dr. Dwi juga telah menerbitkan hasil riset mengenai persepsi remaja terhadap spiritualitas dan penyesuaian orangtua selama pandemi COVID-19 di Indonesia. Hasil risetnya mengungkap bahwa dari remaja dari berbagai latar belakang sosio-demografik yang dilibatkan, sebanyak 72,26 persen remaja merasakan emosi negatif dan 23,79 persen merasakan emosi positif selama pandemi.

Anak belajar di rumah© Shutterstock

Emosi positif tersebut terkait secara signifikan dengan spiritualitas orangtua yang lebih tinggi, sedangkan spiritualitas tersebut berpengaruh positif terhadap penyesuaian orangtua terlepas dari latar belakang sosio demografi remaja. Penting bagi orangtua untuk mempraktikkan gaya pengasuhan yang lebih baik dalam dimensi spiritual.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

3 dari 6 halaman

Cegah Kluster Keluarga, Satgas Covid-19 Ingatkan yang Sering Keluar Rumah

Dream - Penyebaran kasus Covid-19 kini mulai banyak di kalangan keluarga. Mulai dari ayah, ibu, anak, kakek, nenek bahkan hingga bayi yang baru lahir bisa tertular COvid-19 jika salah satu penghuni rumah tak menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin.

Mengapa kluster keluarga bisa terjadi? Menurut dr. Dewi Nur Aisyah, anggota Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 dalam acara bincang-bincang " Ragam Cluster di Indonesia" bersama dr. Lula Kamal mengungkap kalau sumber kluster kelaurga adalah mereka yang paling sering beraktivitas di luar rumah.

" Sumber penularan di keluarga yaitu yang paling sering keluar rumah, bekerja di luar. Satu bawa virus semua bisa kena," ujar dr. Dewi, Rabu 30 September 2020.

Untuk itu bagi Sahabat Dream yang terpaksa harus keluar rumah, pastikan mengenakan masker. Hindari kerumunan. Jika harus berbelanja bahan kebutuhan dan area pasar cukup ramai, dr. Dewi merekomendasikan untuk mengenakan masker medis.

" Untuk masker kain tiga lapis, turunkan risiko 45 persen. Masker medis atau masker bedah, bisa turunkan risiko penularan hingga 70 persen," ungkap dr. Dewi.

 

4 dari 6 halaman

Disiplin dengan Protokol Kesehatan

Saat keluar rumah, selalu ingat kalau risiko tertular di depan mata. Cegah dengan disiplin menggunakan masker. Selalu bawa hand sanitizer ke mana pun dan jaga jarak dengan orang lain serta hindari kerumunan.

Cuci Tangan Pakai Sabun Masih Sulit Dilakukan di Indonesia, Ini Sebabnya© MEN

Sesampainya di rumah, jangan langsung kontak dengan anggota keluarga. Ganti pakaian, taruh barang bawaan di luar rumah. Disinfektan barang pribadi, mandi dan keramas.

" Usahakan untuk kurangi kegiatan aktivitas di luar karena ada risiko yang dibawa pulang ke rumah. Jangan jalan-jalan di tempat yangg penuh keramaian. Jika ada tamu ke rumah baik saudara dekat atau teman tetap jalani protokol kesehatan, cuci tangan, jaga jarak," pesan dr. Dewi.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. 

Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

5 dari 6 halaman

Ramai Kluster Covid-19 Saat Rapat, Cegah dengan Cara Ini

Dream - Tak semua kantor bisa menerapkan sistem bekerja dari rumah secara efektif dan efisien. Tatap muka kerap dibutuhkan untuk koordinasi dan pengambilan keputusan yang sangat penting.

Dalam situasi pandemi Covid-19 rapat di kantor tetap bisa dilakukan asalkan dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. Hal ini demi melindungi seluruh karyawan, termasuk keluarganya dari risiko penularan Covid-19.

Ramai Kluster Covid-19 Saat Rapat, Cegah dengan Cara Ini© MEN

Dokter Dewi Nur Aisyah, salah satu tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 dalam talkshow bersama dr. Lula Kamal, mengingatkan para karyawan yang harus rapat di kantor kenakan masker dan jaga jarak.

" Tetap jaga jarak, take away makanan, snack jangan dimakan pas rapat, apalagi makan bareng-bareng di ruangan. Kalau makan kan masker harus dicopot dan ini meningkatkan risiko. Lebih baik tidak usah," kata dr. Dewi.

 

6 dari 6 halaman

Jangan Copot Masker

Ia juga mengingatkan baik atasan maupun karyawan yang rapat untuk mengenakan masker yang nyaman dan mudah berbicara saat dikenakan. Jangan buka masker sedikit pun saat rapat karena sangat berisiko.

Pakai masker© Shutterstock

" Masker gak boleh copot, pilih masker yang suara tetap terdengar jelas saat dipakai. Kalau pakai mic, tiap orang satu, semprot lagi pakai hand sanitizer. Segera setelah rapat cuci tangan sering-sering," ungkap dr. Dewi.

Risiko penularan Covid-19 di dalam ruangan cenderung sangat tinggi. Ruang kantor dan area rapat cenderung tertutup dan udara berputar karena AC sehingga virus lebih mudah menyebar. Untuk itu, saat di harus ke kantor, menghadiri rapat masker wajib dikenakan. Rutin menyemprot disinfektan juga bisa dilakukan untuk pencegahan.

 

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak

Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Beri Komentar