Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Mengapa Sulawesi Dikenal dengan Nama Celebes? Begini Asal-usul Nama yang Dipakai Bangsa Eropa
Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym
IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor
(Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream – Kita selalu diingatkan pentingnya makan sayur-sayuran. Ada banyak jenis manfaat kesehatan yang diperoleh dari sayuran hijau. Brokoli adalah salah satu jenis sayuran yang sudah dikenal paling bermanfaat.
Sekarang kita akan membahas bagaimana brokoli dapat membantu mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh dan mengapa brokoli menjadi salah satu yang terbaik.
Brokoli termasuk dalam keluarga sayuran cruciferous. Manfaatnya banyak sekali, salah satunya adalah mencegah diabetes.
Brokoli juga mengandung satu zat penting, yaitu kromium, yang di dalam tubuh kita bertugas memproduksi GTF (glucose tolerance factor), yang membantu memetabolisme gula darah dalam tubuh.
Sayuran hijau satu ini kaya kandungan vitamin (terutama vitamin C), mineral, serat, antioksidan dan belerang. Semua ini adalah bahan unggulan yang dibutuhkan untuk melawan masalah gula darah.
Saat tubuh tidak bisa menyerap glukosa dari makanan yang kita makan, maka darah akan mengandung terlalu banyak gula. Kondisi ini dalam jangka panjang menyebabkan diabetes.
Diabetes harus ditangani sedini mungkin. Bila dibiarkan tak terkendali dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius, seperti gagal ginjal.
Sekarang simak empat langkah yang tepat dalam mengonsumsi brokoli untuk mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh dan mencegah lonjakan kadar gula darah dan diabetes dari laman Boldsky.com.
1. Ambil dua batang brokoli segar. Pilih yang berwarna hijau tua
2. Selain bunganya, batangnya juga dapat dikonsumsi karena juga kaya serat dan nutrisi
3. Untuk mendapatkan nutrisi maksimal, brokoli paling baik dimakan mentah atau dikukus daripada dimasak matang
4. Potong-potong brokoli sampai berukuran kecil, tambahkan sedikit selada, dan kecambah. Campur rata. Terakhir tambahkan beberapa tetes minyak zaitun ke dalam salad. Jika suka Anda juga bisa menambahkan kacang mede.

Dengan mengonsumsi salad ini satu kali sehari, Kadar gula darah akan lebih terkendali dan dalam jangka panjang bisa mencegah diabetes.
Untuk memaksimalkan usaha Anda menjaga kesehatan, tambahkan dengan mengonsumsi asupan kesehatan tambahan yang tepat. Pilih asupan kesehatan tambahan yang terbuat dari bahan alami sehingga aman dan tidak memiliki efek samping.
Melabic adalah asupan kesehatan tambahan jenis herbal untuk cegah atasi diabetes. Terbuat dari gabungan enam bahan alami dengan senyawa berbeda yang saling melengkapi bagi kesehatan Anda. Apa saja keenam bahan alami tersebut dan apa manfaatnya masing-masing? Info lebih lanjut, klik di sini.
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis