Tak Cuma Alquran, Rusia Siap Musnahkan Buku Islam di Crimea

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 11 Agustus 2014 09:05
Tak Cuma Alquran, Rusia Siap Musnahkan Buku Islam di Crimea
Berikut ini adalah daftar buku-buku Islam yang dilarang beredar oleh pemerinta Rusia di Crimea.

Dream - Administrasi Muslim di Crimea atau dikenal sebagai Muftiyat, telah mengeluarkan daftar literatur keagamaan yang dilarang penguasa baru Crimea, Rusia, di semenanjung Laut Hitam. Hal itu dilakukan sebelum larangan itu benar-benar diberlakukan.

Seperti yang terdaftar dalam daftar hitam materi ekstremis, Alquaran dan sejumlah buku agama Islam yang sebelumnya legal di bawah payung hukum Ukraina, kini telah dilarang.

Daftar hitam materi ekstremis itu disusun oleh Departemen Kehakiman Rusia pada 14 Juli 2007 dan terdapat 1.058 item pada tanggal 25 Desember 2011. Memproduksi, menyimpan atau mendistribusikan materi di daftar ini merupakan pelanggaran di Rusia.

Wakil Mufti Crimea, Esadulla Bairov, mengatakan kepada Qirim News Agency, memiliki daftar sebelumnya, karena ia sedang memantau situasi di Rusia. " Di tengah situasi saat ini kita melakukan yang terbaik dengan mengeluarkan buku-buku yang dilarang di lembaga pendidikan, masjid dan perpustakaan" .

Beberapa buku-buku Islam yang telah dilarang meliputi karya ilmuwan Turki Said Nursi yang populer pada abad ke-20. Buku lainnya yakni 'Benteng Muslim' yang berisi doa-doa Nabi Muhammad yang dikumpulkan oleh sarjana Muslim kuno Saeed bin Ali bin Wahf Al-Qahtani. Tidak hanya itu, beberapa buku tentang biografi Nabi Muhammad juga dilarang.

" Kami ingin melindungi umat Islam kita dari ekses yang mungkin terjadi besok jika 'Benteng Muslim' ditemukan. Kami masih tidak mengerti mengapa buku yang hanya berisi doa saja ini dilarang. Seorang muslim bangun dan berdoa, pergi ke tempat tidur dan berdoa, duduk di dalam mobil dan berdoa. Itu semua hal yang biasa bagi setiap muslim. Dan buku yang berisi doa-doa ini dilarang di Rusia," tambah Bairov.

Sekitar 300.000 muslim di Crimea, terutama yang dari suku asli Tatar Crimea, harus menyesuaikan diri dengan undang-undang baru yang diberlakukan oleh Rusia setelah Tanah Air mereka dianeksasi dari Ukraina melalui referendum pada bulan Maret lalu.

Sejak Crimea jatuh ke tangan Rusia Maret lalu, sekitar 3.000 Tatar Crimea telah mengungsi meninggalkan semenanjung daratan Ukraina. PBB menengarai adanya erosi hak-hak asasi manusia di Crimea, yang masih berada di bawah pendudukan milisi pro-Rusia yang sangat mengancam Tatar Crimea.

 

(Sumber: World Bulletin)

 

Beri Komentar