Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebagian besar sekolah di berbagai negara di dunia terpaksa melakukan pembelajaran jarak jauh karena pandemi COvid-19. Kondisi ini belum diktahui kapan bakal berakhir.
Untuk di Indonesia sendiri, sekolah di zona merah Covid masih berlangsung dari rumah hingga Desember 2020 mendatang. Muncul pertanyaan apakah sekolah bakal kembali normal seperti sebelum pandemi?
Sebuah model sekolah yang baru sedang jadi perbincangan yaitu sekolah hybrid. Dikutip dari VeryWell, model sekolah ini adalah dengan pengaturan di mana siswa menghadiri sekolah beberapa hari setiap pekan dan melakukan pembelajaran jarak jauh di hari-hari lainnya.
© Dream
Skenario sekolah hybrid menurut Aki Murata, penulis buku Reopening Better Schools: Unexpected Ways COVID-19 Can Improve Education adalah siswa akan menghadiri kelas secara langsung dua hari setiap minggu dan terlibat dalam pembelajaran jarak jauh pada tiga hari lainnya.
" Hal ini memungkinkan sekolah mengikuti pedoman physical distancing dengan membagi jadwal masuk siswa, anak tetap menghadiri sekolah secara langsung di hari-hari tertentu," ungkapnya.
© Dream
Jadwal lain yang mungkin pada model sekolah hybrid adalah hanya boleh ada setengah siswa yang hadir di sekolah di pagi hari. Setelah itu sekolah dibersihkan dan disinfektan untuk kemudian ada kelas lagi di siang hari.
Sampai saat ini konsep tersebut sedang dikembangkan. Terutama di negara-negara yang kasus Covid-19 sudah menurun drastis.
© Dream
Dream - Anak-anak berhak mendapat pendidikan dalam kondisi apapun, bahkan di situasi perang sampai pandemi seperti sekarang. Untuk itu semua pihak bekerja sama, agar anak tetap bisa belajar meskipun tak bisa ke sekolah.
Sistem yang selama ini berjalan adalah belajar jarak jauh. Ada yang melakukannya secara online, melalui email, video dan masih banyak lagi. Kondisi pandemi karena penyakit bukan hanya terjadi saat ini.
Sebelumnya pada 1907 terjadi pandemi TBC (tuberkulosis). Sebuah artikel baru-baru ini dari New York Times menyoroti bagaimana, pada 1907, dua dokter Rhode Island, Ellen Stone dan Mary Packard, mengimplementasikan sebuah rencana yang memperbolehkan anak-anak pergi ke sekolah selama wabah tuberkulosis.
© Dream
Hal ini dilakukan dengan membuat kelas di luar ruangan ruangan. Saat belajar dilakukan dalam kelas, pintu dan jendela pun harus dibuka setiap saat. Tak lama, 65 sekolah lainnya lalu melakukan hal serupa dan mengadakan kelas di luar selama dua tahun.
Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa anak mungkin lebih cenderung memperhatikan apa yang mereka pelajari jika berada di luar. Terutama untuk kelas sains dan olahraga.
Hal ini sangat masuk akal, karena siapa yang tidak suka belajar tentang fotosintesis di luar kelas, melihat bunga dan pohon dengan matahari bersinar, dibandingkan dengan hanya mempelajari papan tulis atau buku teks dan terkurung di dalam?
Apapun bentuknya, anak tetap harus mendapat pendidikan. Untuk saat ini memang paling aman belajar di rumah, jika pandemi berakhir, belajar di luar ruangan mungkin bisa jadi dilakukan.
Sumber: Fatherly
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya