6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Selama di rumah saja anak-anak tak ke sekolah, banyak orangtua kewalahan menyediakan camilan yang selalu habis dalam waktu sekejap. Mereka selalu meminta makanan atau camilan dan merasa lapar.
Padahal jarak antara makanan utama tak terlalu lama, tapi anak selalu mencari makanan di dapur dan kulkas. Hal ini juga dialami Sahabat Dream? Salah satu kekhawatiran orangtua dari kebiasaan makan terus menerus pada anak yaitu obesitas.
Jika ada perubahan besar dalam nafsu makan anak (naik atau turun), ada baiknya memeriksakan diri ke dokter anak untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Ada beberapa penyebab umum anak selalu minta makan dan merasa lapar, penting untuk diketahui orangtua.
1. Makanan dan camilannya tidak mengenyangkan
Banyak camilan anak dalam kemasan seperti biskuit berbentuk ikan, wafer atau hidangan lain yang kalorinya sudah tak memenuhi kebutuhan anak. Terutama camilan yang
dibuat dengan tepung olahan seperti roti putih dan kue kering. Artinya, setelah memakannya, anak akan dengan cepat kembali lapar.
Anak-anak yang tidak makan buah dan sayuran kaya serat, cenderung cepat lapar. Solusinya adalah memastakan menu hidangannya memenuhi kebutuhan serat dan protein yang cukup sesuai usianya. Untuk camilan, sebaiknya berikan pisang, apel atau keju, yang membuat kenyang dan kaya gizi.
© Dream
Nafsu makan anak berfluktuasi dari tahun ke tahun dan bahkan hari ke hari. Saat anak-anak berada di fase growt spurt atay percepatan pertumbuhan, tiba-tiba ada peningkatan nafsu makan yang mungkin tampak di luar dari kebiasaan.
Hal ini sangat normal. Sering terjadi saat anak di usia 10-17 tahun. Pastikan saja stok makanan di rumah terdiri dari hidangan bergizi. Seperti avokad, pisang, pepaya, keju lembaran atau kacang-kacangan.
© Dream
Hanya di rumah saja, main di luar juga hanya sebentar, tidak ke sekolah, tak boleh liburan, pastinya anak juga merasa bosan. Mereka bisa menyalurkan emosinya yang bosan dan suntuk pada makanan.
" Kadang-kadang untuk seorang anak, 'Saya lapar' berarti saya bosan, kesal, atau hanya ingin makan," kata dr. Maryann Jacobsen, MS, RD, penulis How to Raise A Mindful Eater.
Apa yang harus dilakukan? Mulailah berbicara dengan anak tentang rasa lapar, kenyang, dan pentingnya mendengarkan perut kita. Skala lapar ini mungkin berguna untuk membantu anak menilai rasa laparnya. Jika ternyata dia sebenarnya tidak terlalu lapar, cobalah berbicara dengannya tentang apa yang sebenarnya dia rasakan dan coba bantu dia, entah itu membicarakan masalah atau mencari permainan jika dia bosan.
Sumber: Parents
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya