Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Alasan Pengemudi Mobil Ogah Pakai Kendaraan Nirsopir (Foto: Shutterstock)
Dream – Industri otomotif khususnya di negara maju kini sudah mencapai level 5. Di tingkat ini, mobil mengedepankan penggunaan teknologi. Salah satu yang sudah terlihat ada penerapan sistem nirsopir atau mobil tanpa sopir.
Meski memudahkan kerja pemilik kendaraan, teknologi driverless ternyata tak selancar yang dikira. Banyak orang yang masih enggan menggunakannya.
Produsen otomotif sepertinya lupa memperhitungkan faktor kebiasaan pengemudi kendaraan. Mereka merasa tak mengendarai mobil jika tak memegang kendali setir.
Temuan ini didapat dari hasil sebuah studi yang dilakukan oleh Automobile Association (AA) di Inggris.
Dikutip dari Auto Evolution, Senin 7 Oktober 2019, ikatan budaya dengan mobil masih tertanam sangat tetap kuat. Pengemudi ogah melepas tangannya dari kemudi, meskipun berada di mobil yang berteknologi driveless.
Diketahui jika masih banyak masyarakat yang belum percaya dengan teknologi nirsopir ini.
Dari lebih dari 21 ribu pengemudi di Inggris, seperempat diantaranya menjawab percaya diri mobilnya bisa menyetir sendiri. Sisanya mengaku takkan melepas tangannya dari kemudi, tak peduli berapa banyak jaminan yang mereka peroleh bahwa kendaraan tersebut akan menangani apa pun yang terjadi dalam lalu lintas.
Presiden Automobile Associatio, Edmund King, menekankan produsen mobil harus memenangkan kepercayaan pengemudi sebelum membuat mobil otonom sejati. Keterikatan budaya dengan mobil tidak boleh diabaikan atau diremehkan.
King mengatakan ada 63 persen responden yang merasa kehilangan esensi mengemudi jika naik mobil otonom. Mayoritas mereka adalah perempuan. Sementara 53 persen pria juga merasakan hal yang demikian.
“ Seiring berkembangnya mobil autonomous, hampir setengahnya tak bisa membayangkan ketika melepas mobil,” kata King.
Sembilan dari 10 pengemudi yang ditanyai mengatakan mereka tidak akan mempercayai mobil untuk membuat keputusan yang tepat jika terjadi keadaan lalu lintas yang tidak terduga, tidak ketika mereka berada di dalam dan bisa mengambil kemudi sendiri. Sisi baiknya, pengemudi menyambut baik teknologi di dalam mobil - selama mereka tidak harus melepaskan kendali penuh atas kendaraan.
Survei yang sama mengungkapkan bahwa 59 persen dari mereka yang ditanya ingin control cruise yang adaptif dan 58 persen akan menyukai pengereman darurat otomatis canggih.
“ Tidak diragukan lagi, kemajuan teknologi dapat dan akan menyelamatkan nyawa dan meningkatkan mobilitas untuk orang tua, orang cacat, dan orang muda,” kata dia.
(Sah/ Sumber: autoevolution)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya