Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Konseling Untuk Ibu Menyusui Di Pos Pengungsian Dusun Sidera (Foto: AIMI).
Dream - Senyum Dede Suryati (37 tahun) mengembang lebar. Air susunya masih keluar, padahal ia sudah tidak menyusui Muhammad Amanusa Abimanyu (3 bulan) sejak 2 bulan lalu. Meski begitu, ia masih takut untuk memberikan air susunya kepada anak keempatnya.
“ Saya takut ASI saya sudah basi, karena sudah lama tidak menetek,” ungkap Dede di Pos Pengungsian Dusun Sidera 2, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu pada Selvie Amalia, seorang konselor laktasi.
Selvie bersama rekan-rekannya dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) , dan UNICEF, mendampingi para ibu menyusui di Sigi, daerah yang terkena bencana gempa dan likuifaksi beberapa waktu lalu. Menurutnya, masih banyak para ibu yang ragu untuk memberikan ASI pada bayinya.
“ Apakah ASI saya tidak basi, Bu? Apakah tidak apa-apa menyusu lagi setelah 2 bulan saya berhenti menyusui? Apa ASI saya masih bagus?” berbagai pertanyaan pun dilontarkan Dede pada konselor.
Para konselor laktasi pun menjelaskan bahwa ASI dalam payudara ibu selalu bagus dalam kondisi apapun. Dede pun dibantu menemukan posisi dan pelekatan yang tepat saat menyusui lagi pada Abimanyu. Abimanyu pun sempat mau menyusu kembali.
" Abimanyu yang sudah berusia 3 bulan saat ini, memerlukan susu lebih banyak dibandingkan 2 bulan yang lalu. Sedangkan produksi ASI Dede sudah menurun karena tidak menyusui 2 bulan ini," ujar Elisabethesti.
Produksi ASI Dede perlu ditingkatkan untuk mengejar kebutuhan menyusu Abimanyu. Oleh karena itu, Dede pun diberitahu bagaimana cara meningkatkan produksi ASI. Inti meningkatkan produksi ASI adalah dengan mempersering keluarnya ASI, bisa dengan menyusui bayi secara langsung dan juga memerah ASI.
Diimbangi dengan semangat dan keinginan kuat sang ibu untuk menyusui anaknya, maka menyusui kembali setelah dua bulan tidak menyusui adalah hal yang sangat bisa terjadi.
Menyusui kembali juga dapat mengurangi risiko infeksi karena lingkungan yang masih tidak stabil.
Baca cerita lengkapnya di sini
© Dream
Dede melahirkan anak keempatnya dalam segala keterbatasan di pengungsian. Rumahnya rata dengan tanah, pada saat gempa dan likuifaksi mengguncang Sigi, Palu dan Donggala.
Setelah melahirkan, ia pun menyusui anaknya. Dulu ia menyusui ketiga anak sebelumnya hingga masing-masing berusia lebih dari 2 tahun.
“ Awalnya saya hanya coba-coba, karena saya dapat susu formula dari bantuan. Saya berikan susu botol, dia mau. Setelah 1 minggu saya berikan susu botol, saya coba teteki lagi, anaknya masih mau. Tapi saya khawatir ASI saya basi, sudah tidak bagus, karena sudah 1 minggu tidak diteteki,” cerita Dede.
Ia mendapatkan formula bayi beserta botol dan dotnya melalui bantuan yang dikirim ke Sigi. Ia menyiapkan formula bayi untuk anaknya tanpa pendampingan dari tenaga kesehatan. Botol pun dibersihkan seadanya, seperti ia mencuci peralatan masak lainnya, dengan spons, sabun dan air.
Dede tak tahu bahwa penggunaan formula bayi, botol dan dot memiliki risiko tinggi. Apalagi dalam keadaan di pengungsian seperti ini, di mana tidak mudah menyediakan air bersih, peralatan memasak serta sanitasi yang memadai.
Ia tidak menyadari tingginya risiko kontaminasi, pencemaran air serta tata cara pemberian yang tidak tepat.
© Dream
Pemberian formula bayi juga berisiko menurunkan daya tahan tubuh bayi secara fisik dan psikis, sehingga bayi mudah terserang penyakit. Menyusui bayi pada keadaan darurat/bencana dapat menyelamatkan jiwa dan kesehatan sang bayi.
Hal ini karena menyusui adalah satu-satunya cara memberi asupan yang sesuai kebutuhan bayi, kebersihan yang terjaga, memiliki yang gizi cukup serta ketersediaannya terus berkelanjutan. Ditambah fakta bahwa menyusui bayi memiliki banyak manfaat dan keuntungan bagi bayi, ibu dan keluarga.
Dalam keadaan bencana seperti ini, masih banyak Dede yang lain, seorang ibu yang seharusnya bisa menyusui bayinya, namun tidak mendapatkan dukungan yang tepat. Bantuan tepat untuk ibu menyusui adalah memberikan pendampingan konselor agar ibu kembali menyusui bayinya dengan nyaman dan tenang.
Dukungan Konselor Menyusui dan Konselor PMBA di Kabupaten Sigi ini sangat dibutuhkan para ibu menyusui. Aktivitas ini merupakan kerjasama antara UNICEF, Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).
Laporan Selvie Amalia
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya