Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi Game Balapan. (Foto: Wikipedia)
Dream – Para gamers pasti tahu jika ada jenis game balapan yang sudah banyak dimainkan. Selain menegangkan, masih ada yang menganggap game setir virtual ini bisa meningkatkan keterampilan mengemudi di dunia nyata.
Tapi mitos ini sebaiknya mulai ditinggalkan. Sebuah surve membuktikan jika mengemudi game balapan sama sekali jauh dari realitas.
Dikutip dari Zing.vn, Rabu 10 Juli 2019, CensusWide yang melakukan survei terhadap 1.250 orang di Inggris menemukan jika pemain game balap cenderung lebih ceroboh dan tidak aman ketika sedang mengemudi.
Lebih dari 20 persen responden mengaku pernah menguji keterampilan yang dilihat dan dipelajari dari game balap ke dunia nyata.
Pada kelompok orang yang teratur bermain game balap, ada 26 persen responden yang dua kali melakukan pelanggaran. Sebaliknya, hanya 17 persen responden orang yang tidak bermain video game balap melakukan pelanggaran lalu lintas.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa responden terlibat 1,3 kecelakaan sejak memiliki SIM. Lalu, ada 59 persen responden yang menyebut permainan balap membuat ilusi ketrampilan mengemudi.
Ada 55 persen responden setuju produsen game balap lebih menekankan bahaya yang bisa dihadapi pemain di dunia nyata.
Akan tetapi, hasil ini bertentangan dengan studi yang dilakukan oleh University of Rochester, Amerika Serikat, pada 2020. Penyelidikan sembilan tahun menunjukkan bahwa video game membantu meningkatkan refleks pemain terhadap situasi berbahaya di dunia nyata.
Pada 2017, pemerintah Inggris bahkan memasukkan game balap Gran Turismo Sport ke dalam kursus pelatihan keterampilan mengemudi untuk polisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa petugas polisi telah mempersingkat waktu mengemudi di jalan yang sama dibandingkan dengan sebelum dilatih, sambil meningkatkan kelancaran dan stabilitas saat menangani situasi.
Tidak dapat disangkal bahwa game balap terkadang memberi pemain pengetahuan tertentu melalui tantangan yang hanya mereka dapatkan di dunia virtual. Namun, tidak semua gamer dapat menerapkan pengalaman tersebut secara nyata secara wajar.
Bagaimanapun, efek utama dari permainan adalah hiburan. Dalam kehidupan nyata, insiden tidak dapat diperbaiki setelah hanya beberapa detik karena tidak ada yang terjadi seperti dalam permainan.
Dream – Seberapa banyak kamu ingat materi kelas mengemudi? Jika jawabannya tidak banyak, artinya kamu tak sendirian.
Dikutip dari Carscoops, Senin 8 Juli 2019, studi yang diadakan Volvo dengan Harris Poll menyebutkan, sebagian besar orang Amerika berpandangan sekolah mengemudi suram.
Dikatakan ada 2 ribu orang memiliki SIM yang menanggapi survei. Ada 52 persen responden mengatakan pendidikan pengemudi sudah ketinggalan zaman dan 60 persen menilai tes mengemudi dirancang untuk lulus.
Ada 28 responden yang mengatakan menghabiskan waktu kurang dari 20 jam di belakang kemudi sebelum mengambil tes mengemudi.
Sementara, di negara-negara lain, kata Volvo, rata-rata pengemudi memerlukan waktu 46 jam di balik setir dan ada juga yang mengambil waktu di bawah 40 jam sebelum tes menyetir.
Tak terlalu mengejutkan bahwa kebanyakan orang tidak belajar tentang praktik berkendara yang aman dari sekolah mengemudi.
Ada 51 persen responden mengatakan orangtua dan wali mereka mengajarkan cara berkendara mobil dengan aman.
Dream – Kebutuhan mobil di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya masyarakat kelas menengah baru. Selain lebih aman dan nyaman dibandingkan naik sepeda motor, harga mobil kini juga semakin terjangkau.
Pembelian mobil yang meningkat sudah pasti akan menambah jumlah mobil di jalan. Tentu saja kondisi jalan akan semakin ramai.

Munculnya pemilik mobil baru tentu membuat tipe pengemudi semakin beragam. Kini kita juga sering melihat banyak perempuan yang berani mengemudikan mobil.
Setiap pengemudi tentu puya style sendiri saat berkendara. Nah, tipe-tipe pengemudi apa saja yang sering ditemui di jalan?
Berikut ini rinciannya, dikutip dari Top 1 Indonesia, Senin 28 Januari 2019.
Tipe Kalem
Tipe pengemudi ini biasanya pribadi yang sangat santai dan selalu mematuhi aturan lalu lintas dengan benar. Jarang memutar musik lebih sering mendengarkan radio.
Pengemudi ini selalu memakai sabuk pengaman, jarang berbicara, dan selalu fokus. Pengemudi ini juga selalu tahu dan punya insting yang bagus terhadap seluruh jalan tikus.

Tipe Pemarah
Pengemudi ini cenderung marah-marah di jalan. Dia selalu menganggap semua mobil itu menghalangi jalannya dan selalu merasa paling benar.
Biasanya orang-orang ini selalu cenderung emosi saat berkendara terutama ketika jalanan sedang macet. Tipe ini juga sering dilakukan adalah berteriak bahkan kadang merendahkan pengemudi lain.
Tipe Pembalap
Kamu akan sering menemukan pengemudi bertipe ini ketika kamu sedang di jalan tol. Mereka biasanya selalu berusaha menjadi yang terdepan dengan selalu tancap gas paling pol.
Tipe ini selalu ingin buru-buru dan dianggap keren sama pengemudi lain. Yang paling parah, tipe ini suka menutup celah jalur demi mencegah pengemudi lain tidak menyusulnya.
Tipe Bijaksana
Tipe ini hampir sama dengan tipe kalem. Akan tetapi, dia ini lebih ke orang yang selalu menghindar dan selalu dibalap dengan pengemudi lain.
Misalnya, ada pengemudi yang sengaja bikin dia marah, tapi dia selalu santai aja karena merasa bahwa itu membuang waktu aja. Jadi, daripada kena masalah, lebih baik tipe ini menghindarinya.
![]()
Tipe Anak Kekinian
Nah kalau tipe ini biasanya diisi oleh para milenial yang baru bisa belajar naik mobil. Mereka ini suka sangat sibuk di dalam mobil.
Tipe anak kekinian sering mendengarkan musik, memeriksa media sosial ketika macet, dan sering menelepon temannya (bahkan video call). Tipe iti selalu ingin mengalihkan perhatiannya sehingga selalu merasa nyaman dan enjoy.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?