Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak Makan Sendiri (Foto: Shutterstock)
Dream - Anak yang masih berusia lima tahun atau balita, cenderung selalu disuapi saat makan. Sesekali, cobalah hidangan makanan di hadapannya. Potong makanan tersebut agar mudah digenggam anak, atau sering disebut finger food.
Biarkan anak duduk dan sediakan makanan tersebut. Si kecil akan penasaran dan memegang, kemudian mencicipinya. Memang, saat anak makan sendiri kondisinya bakal sangat berceceran dan berantakan.
Sebenarnya, dalam momen tersebut anak akan belajar banyak hal. Seluruh inderanya akan terstimulasi termasuk juga kemampuan motoriknya. Menurut beberapa pakar perkembangan anak, ajaran untuk makan sendiri sudah bisa mulai diterapkan saat anak berusia 12 bulan. Ini artinya anak sudah harus dikenalkan pada kebiasaan tersebut sejak sangat dini.
Beberapa orangtua mungkin bertanya-tanya, apa pentingnya mengajari anak makan di usia yang sangat dini? Ternyata ini sebabnya.
© Dream
Saat anak mulai makan sendiri, dia akan lebih penasaran dan ingin mencoba berbagai jenis makanan. Melihat warna, penyajian, merasakan tekstur akan membangkitkan hasrat untuk mencicipi makanan baru yang ada di hadapannya.
Hal ini akan membuat atau merasakan banyak rasa dan tekstur, mengembangkannya menjadi food explorer. Efeknya adalah, kelak anak tak menjadi picky eater atau sangat pemilih dalam hal makanan.
© Dream
Anak jadi lebih punya tanggung jawab sendiri atas tubuhnya. Saat dia lapar dia akan makan dan saat kenyang dia akan berhenti makan.
Anak juga bisa terhindar dari kemungkinan obesitas karena dia bisa mengukur kapasitasnya sendiri. Jika selalu disuapi orangtua, anak kurang merasakan kepekaan ini.
Baca manfaat lainnya saat anak balita makan sendiri di Diadona.id.
© Dream
Dream - Membiasakan mengonsumsi gizi seimbang bagi anak harus dimulai sejak dini. Hal ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup anak, seperti kecerdasannya.
Kebutuhan gizi anak dan dewasa tentu saja berbeda. Begitu pula kebutuhan gizi anak berbeda setiap tahapan usianya. Maka dari itu, orangtua perlu memerhatikan asupan gizi anak sejak 1.000 hari pertama.
Nestle melalui program Nestle for Healthier Kids (N4HK), mengajak orangtua untuk menerapkan kebiasaan sehat melalui '6 Kebiasaan Baik'.
" Setiap stage usia akan membutuhkan asupan gizi yang berbeda, jenis makanan yang berbeda, dan yang pasti cara pemberiannya pun berbeda-beda. Jadi, kita tidak bisa mengeneralisir pemberian makanan pada setiap usia," ujar Corporate Nutritionist Nestle Indonesia, Eka Herdiana, saat perayaan International Chefs Day, di Almond Zucchini, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019.
© Dream
Mengonsumsi beragam jenis makanan, berguna untuk memenuhi gizi seimbang anak. Makanan bergizi seimbang adalah yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.
Menurut Eka, semua makanan sebenarnya memiliki manfaatnya masing-masing. Sehingga, orangtua sebaiknya tidak melarang anak untuk mengonsumsi suatu makanan. Tetapi, cukup membatasinya saja sesuai porsi yang dibutuhkan.
" Ada beberapa penelitian yang menyatakan kalau kita tidak menghargai pemberian makanan, misalnya kalau kita mengatakan makan permen itu jahat, itu malah membuat si anak berambisi untuk mencoba makanan tersebut. Ini juga dapat membuat mereka mempunyai masalah eating disorders," ujar Diana.
Oleh karena itu daripada melarang, orangtua lebih baik memberikan alasan yang spesifik mengapa anak boleh atau tidak boleh mengonsumsi sesuatu.
" Ajak mereka untuk mencoba banyak hal nanti kita kasih tahu bahwa yang ini harus dibatasi, yang ini bisa dikonsumsi sekian banyak. Jadi beragam jenis makanan dan porsi harus dikombinasi," ungkap Diana.
© Dream
Tidak lupa peran orangtua juga dibutuhkan untuk memberikan informasi terkait makanan yang anaknya konsumsi. Sehingga, hal tersebut akan menumbuhkan persepsi kepada anak bahwa makanan bisa menjadi sehat jika kombinasinya tepat.
" Kita harus membangun persepsi yang tepat. Misalnya, sayuran itu sehat tapi akan lebih baik lagi kalau kita katakan sayuran hijau itu membantu kita untuk apa sih," ujar Diana.
Hal yang juga tak kalah penting adalah membantu anak mengatur porsi makan yang tepat. Pastikan anak mengonsumsi jenis makanan yang beragam, memenuhi kebutuhan gizi seimbang, dan mengonsumsi asupan energi yang cukup.
Membiasakan mengatur porsi makan, akan membuat anak terbiasa pada pola asupan sehat dan seimbang.
" Saat ini, angka malnutrisi itu cukup tinggi ya. Tidak hanya kekurangan gizi tapi juga kita menghadapi yang namanya gizi lebih. Maka dari itu, penting untuk membiasakan kebiasan baik sejak dini. Itu, akan membantu mereka tumbuh menjadi dewasa yang lebih baik dan lebih sehat," ungkap Diana.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya