Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
The Look Of Silence
Dream - Film dokumenter yang mengambil gambar di Sumatera Utara karya sutradara Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer terpilih menjadi film terbaik di Busan Cinephile Award, Festival Film Internasional Busan.
Film berjudul Wajah Senyap atau " The Look of Silence" ini menceritakan 500.000 pembunuhan yang diduga sebagai komunis di Indonesia di tahun 1965. Film yang dirilis 28 Agustus 2014 ini merupakan sekuel dari film 'The Act of Killing' atau jagal yang juga masuk dalam nominasi Oscar tahun lalu dan mendapatkan penghargaan di Grand Jury Prize, Festival Film Intenasional Venice.
Selain itu film yang mengangkat konflik di Indonesia ini juga mengukir prestasi di FIPRESCI Award (Penghargaan Federasi Kritikus Film Internasional) untuk film terbaik, Mouse d’Oro Award (Penghargaan Kritikus Online) untuk film terbaik, Fedeora Award (Federasi Kritikus Film Eropa dan Mediterania) untuk film terbaik Eropa-Mediterania dan Human Rights Nights Award untuk film terbaik bertema hak asasi manusia.
Film berdurasi 98 menit ini menceritakan perjalanan seorang bernama Adi Rukun, seorang ahli mata yang kakaknya tewas dibunuh di tengah gelombang pertikaian di Indonesia setelah kudeta yang gagal. Angkatan darat jenderal Suharto saat itu menyalahkan partai komunis Indonesia.
" Setelah film jagal, saya terpikir untuk membuat sekuelnya dan ingin menceritakan bagaimana seseorang bisa bertahan hidup selama 50 tahun di tengah keheningan dan teror," ujar Oppenheimer dilansir dari Rappler, Sabtu, 11 Oktober 2014.
Kedua film tersebut membuat Oppenheimer selalu ingin kembali ke Indonesia walaupunada rasa tidak aman. “ Saya sangat ingin kembali,” ujarnya.
Oppenheimer menambahkan film ini merupakan bentuk cinta dengan Indonesia. “ Film ini surat cinta saya untuk Indonesia," ungkapnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya