Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Foto: RT.com
Dream - Kita memang harus bijak saat menggunakan smartphone. Tahu batasan tempat dan waktu. Kalau tidak, mungkin kejadiannya bisa seperti yang dialami bocah satu ini.
Melansir RT.com, sebuah kejadian unik dialami seorang bocah saat berjalan bersama orang tuanya di tempat umum.
Lantaran keasyikan bermain smartphone, bocah laki-laki itu salah menggandeng orang yang ia kira adalah ayahnya.
Di tangan kirinya, tampak sebuah smartphoe terpegang dengan erat. Sementara tangan kananaya terus menggandeng pria lain yang ia ikuti sampai hampir kehilangan orang tuanya.
Pria itu diketahui merupakan seorang seorang pengguna jalan yang kebetulan lewat di daerah tersebut.
Setelah sadar salah menggandeng ayah palsu, bocah laki-laki ini lalu berlari kembali ke arah keluarganya yang memperhatikannya sedari tadi.

Menjadi bukti nyata dari bagaimana anak-anak jaman sekarang yang kecanduan dengan smartphone, unggahan ini sukses viral di Twitter hingga banjir komentar netizen.
Belum diketahui pasti dimana video ini direkam, namun diduga berada di salah satu daerah di China.
Berikut videonya:
Child too busy with his phone walks away with the WRONG parents! pic.twitter.com/Y1Im9BzgXe
— RT (@RT_com)November 10, 2019
Dream - Divya. Bocah lima tahun asal Hyderabad, India, ini sedang menjadi viral di Negeri Hindustan itu. Fotonya, saat mengintip ruang kelas dari balik pintu, menjadi perbincangan warganet. Bocah itu mengamati aktivitas belajar para murid sambil membawa mangkok.
Foto itu dimuat oleh koran di Telugu pada 7 November silam. Dalam foto itu terlihat raut kesedihan di paras Divya. Dengan cepat foto itu menjadi sensasi si media sosial.
Salah satu yang membagikannya ke Facebook adalah aktivis anak. Bocah itu digambarkan seolah sedang meratap karena anak-anak yang lain mendapatkan makanan dan pendidikan layak. Foto itu berdampak besar.
Keluarga Divya pun angkat bicara. M Lakshman, ayah Divya, mengatakan, foto tersebut membuat posisinya dan istri, Yashoda, yang bekerja sebagai tukang sapu, terpojok.
" Aku merasa terpojok saat melihat foto tersebut," kata Lakhsman, kepada BBC.
" Divya punya orang tua dan kami bekerja keras untuk memberikan masa depan, namun dia digambarkan seolah yatim-piatu yang kelaparan," tambah dia.
Lakhsman mengaku bukannya enggan menyekolahkan Divya, namun dia menunggu usia putrinya mencapai enam tahun agar bisa masuk ke sekolah negeri. Dia juga menyekolahkan dua putrinya yang lain di sekolah negeri.
Pria yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung ini juga punya seorang putra yang kini beranjak memasuki perkuliahan.
Divya dan orang tuanya tinggal di gubuk satu kamar di kota kumuh di jantung kota Hyderabad. Daerah kumuh berjarak sekitar 100 meter dari sekolah negeri, tempat Divya difoto.
Sebagian besar dari 300 keluarga yang tinggal di sini adalah pekerja harian dan anak-anak mereka bersekolah di dekat situ. Lakshman tahu apa artinya berjuang. Dia tumbuh tanpa orang tua dan selalu berjuang untuk mencari nafkah yang layak.
" Aku tidak pernah ingin anak-anakku memiliki kehidupan yang kumiliki. Jadi aku memastikan mereka semua pergi ke sekolah," kata dia.
Ketika ditanya mengapa Divya pergi ke sekolah, Lakshman mengatakan, banyak anak muda dari daerah kumuh tersebut mencari makan siang gratis di sekolah.
Sebuah program pemerintah India menyediakan makanan yang dimasak kepada anak-anak di lebih dari satu juta sekolah. Dia mengatakan mereka tahu tentang program ini karena dua anaknya sudah terdaftar.
Para guru di sekolah mengatakan, beberapa anak membawa makan siang dari rumah. Sehingga mereka memberikan sisa makanan kepada anak-anak kecil yang belum bergabung.
" Anak-anak adalah anak-anak. Dan tidak ada pusat penitipan anak, jadi banyak dari anak-anak ini berkeliaran di sekolah," kata seorang guru.
Lakshman dan tetangganya mengakui kurangnya pusat penitipan anak yang disponsori pemerintah di lingkungan itu,
Inspektur sekolah setempat, SU Shivram Prasad, mengatakan, dia berharap perhatia foto tersebut akan mempercepat proses pengembangan sekolah tersebut.
" Ini akan membantu orang tua dan anak-anak dapat makan makanan bergizi," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang