Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Source: Shutterstock.com
Dream - Pandemi Covid-19 telah membuat sebagian orang sadar akan pentingnya kesehatan mental. Hal ini juga tak lepas dari kecemasan masyarakat melihat imbas pandemik yang membuat masalah rumah tangga meningkat dan banyak perusahaan terpaksa mengurangi pegawainya.
Di tengah tekanan mental yang semakin berat di masa pandemi ini, sejumlah organisasi psikolog menyediakan jasa konseling virtual dengan biaya yang terjangkau. Bahkan, di antaranya ada yang sempat memberikan jasa konseling gratis.
Layanan yang bisa diakses banyak orang ini cukup banyak membantu seseorang dalam mengatasi masalah mental saat pandemi. Lalu, kapan sebenarnya kita harus berkonsultasi pada pakar?
Sahabat Dream sebetulnya bisa berkonsultasi kapanpun agar pikiran lebih tenang. Selain untuk menenangkan pikiran, para psikolog, terapis atau psikiater dapat membantumu meningkatkan kualitas hidup.
Saran-saran dari pakar itu akan membantu kamu lebih produktif dan bisa menjalani pola hidup yang lebih sehat.
Dua hal yang selama ini menjadi pemicu seseorang untuk berkonsultasi dengan pakar adalah kesedihan dan depresi. Meskipun mirip, tapi keduanya cukup berbeda.
Kesedihan merupakan sesuatu yang jelas penyebabnya dan tidak dialami terlalu lama. Sedangkan depresi bisa muncul tiba-tiba dan sulit dihilangkan. Inilah alasan mengapa kamu harus segera berkonsultasi pada pakar ketika depresi.
Jika tidak segera diatasi, depresi bisa mengarah pada kecemasan yang cukup parah. Sebenarnya, kesedihan pun bisa mengarah pada depresi jika terus berlanjut dan berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Untuk bisa membedakan kedua kondisi tersebut, berikut tanda-tanda yang kerap dialami saat depresi dilansir dari Times of India.
Ketika sedih, kamu masih bisa fokus untuk menjalani hal lainnya seperti pekerjaan kantor, rumah maupun bersosilasisasi. Namun ketika depresi, kamu akan lebih sulit berpikir jernih dan cenderung membiarkan pekerjaanmu begitu saja.
Menjauhi teman maupun keluarga
Sebagian orang membutuhkan teman dan keluarga ketika sedih agar merasa lebih nyaman. Sedangkan ketika depresi, kamu justru enggan berkumpul dengan teman dan keluarga.
Masalahmu pun dipendam sendiri dan akhirnya berujung pada depresi yang cukup berbahaya jika terus dibiarkan.
Kesedihan merupakan hal yang sangat wajar dialami dan bisa hilang dalam beberapa waktu. Hal yang sama tidak terjadi ketika mengalami depresi. Kamu harus berkonsultasi dengan pakar untuk bisa mengatasinya.
Suasana hati yang tidak stabil
Hal ini kerap terjadi ketika mengalami depresi. Kamu akan merasa cemas dan marah tiba-tiba. Berbeda halnya jika mengalami kesedihan, yang mana kamu masih bisa memaafkan seseorang dan menerima keadaan.
Sulit fokus
Stres dan depresi bisa membuatmu tidak tertarik untuk melakukan apapun serta sulit fokus ketika melakukan suatu hal. Untuk mengatasinya, carilah penyebab kesedihan atau depresi yang dialami dan berkonsultasilah pada psikolog, terapis atau psikiater.
(Sumber: Times of India)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya