Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Foto: Shutterstock
Dream - Beberapa penyakit diderita dengan gejala-gejala yang bisa diatasi. Tapi, sebagian di antaranya ada yang tidak bergejala bahkan menyerang organ vital, seperti glaukoma.
Sayangnya, belum banyak yang tahu seputar penyakit 'pencuri' penglihatan ini.
" Di Amerika, hanya 20 persen populasi yang tahu tentang glaukoma dan 50 persennya hanya pernah mendengar saja," tutur Emma Rusmayani, Spesialis Mata di Spumante, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Maret 2019 kemarin.
Pentingnya mengetahui penyakit ini disebabkan gejalanya yang nyaris nihil dan tidak bisa disembuhkan.
" Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua di dunia dan 90 persen kasusnya, tidak bergejala. Biasanya, pasien cari pertolongan kalau penglihatannya terganggu sekali," kata Emma.

Foto: Emma Rusmayani, Spesialis Mata di Spumante/Dream.co.id-Cynthia Amanda Male
" Glaukoma merupakan kerusakan saraf mafa yang ditandai dengan terganggunya luas penglihatan dan tekanan bola mata tinggi. Penyakit ini seringkali nggak disadari karena tajam penglihatannya tidak terganggu," ungkapnya.

Tekanan bola mata tinggi bisa disebabkan terganggunya tempat produksi dan dikeluarkannya cairan air mata.
" Kalau alirannya tidak lancar dan air mata menumpuk, tekanan bola matanya akan meninggi. Biasanya akan bahaya jika tekanannya di atas 21 mmHg," jelas Emma.
Setelah tekanan bola mata meninggi, saraf mata pun akan rusak karena efek penekanan dan terkikis akibat penumpukan cairan aquos humor.
Gejala penyebab glaukoma bisa disebabkan genetik, infeksi, peradangan, katarak maupun penyakit sistemik seperti diabetes.
Anak yang memiliki orang tua penderita glaukoma, memiliki potensi sebesar 20 persen. Sedangkan, jika saudara kandungnya mertupakan pengidap glaukoma, potensinya meningkat 40 persen.
" Glaukoma primer biasanya tidak bergejala sama sekali, diduga karena genetik. Dan jenis ini yang paling banyak diderita. Sedangkan, glaukoma sekunder disebabkan penyakit lainnya, seperti katarak yang terlalu 'matang', ukuran kacamata minus di atas 6 atau plus di atas 3," jelasnya.
Selain disebabkan beberapa hal, penyakit berbahaya ini erat kaitannya dengan usia dan ras. Glaukoma banyak menyerang usia lanjut. Walau begitu, kini banyak orang berkepala tiga atau empat yang menderita penyakit ini.
Emma menerangkan, " Kalau di Asia, lebih banyak penduduknya menderita glaukoma sudut tertutup, yang bergejala. Sedangkan, di Amerika lebih banyak menderita sudut terbuka atau yang todak bergejala."
" Kita bisa mencegah dengan deteksi dini, seperti screening glaukoma dan pemeriksaan tekanan bola mata, sudut bilik mata depan, saraf optik serta lapang penglihatan," imbuh Emma.
Karena penyakit ini tidak bisa disembuhkan, penderita hanya bisa menghentikan parahnya glaukoma.
" Tergantung kasusnya. Pasien bisa mengonsumsi obat. Kalau tidak berhasil, akan dilaser. Kalau tidak berhasil juga, dioperasi," tambahnya.

Ketiga teknik pengobatan tersebut mampu mencegah penyebaran glaukoma dari satu mata menjadi kedua mata. Dan juga menghentikan penyempitan lapang penglihatan.
Jadi sebelum penglihatanmu menyempit, jangan lupa screening mata atau medical check up secara rutin ya. (ism)
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya