6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ibu Dan Bayi (Foto: Shutterstock)
Dream - Lahirnya bayi ke dunia memang mengubah semua rutinitas dan setiap aspek dalam kehidupan. Baik ibu maupun ayah, harus beradaptasi dengan cepat setelah memiliki bayi.
Salah satu yang paling berubah adalah jam tidur. Bayi baru lahir kerap kali terbangun karena haus, tidak nyaman serta buang air kecil maupun air besar. Kondisi ini terjadi hingga bayi berusia 3 bulan.
Tak heran kalau di usia bayi 0 hingga 3 bulan, orangtua, terutama ibu mengalami kurang tidur. Bahkan menurut penelitian seorang ibu kehilangan waktu tidur selama 44 hari setelah memiliki anak.
" Studi telah meneliti hilangnya waktu tidur secara siginifikan pada orangtua yang memiliki bayi. Ibu cenderung kehilangan rata-rata dua jam tidur per malam selama lima bulan pertama, kemudian satu jam per malam sampai usia dua tahun," kata Kelly Sullivan, asisten profesor epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Jiann-Ping Hsu di Georgia Southern University.
Dikutip dari Motherly, Sullivan mempelajari jam tidur orangtua baru. Ia membandingkan pola tidur perempuan tanpa anak dengan ibu yang baru melahirkan. Perbedaannya sangat signifikan hingga anak berusia 2 tahun.
Sebuah survei terhadap orangtua baru di Inggris menemukan, orangtua kehilangan 44 hari tidur selama tahun pertama kehidupan bayi karena mereka hanya mendapatkan 5,1 jam waktu tidur setiap hari.
Menurut Sullivan, kurang tidur kronis dapat mengakibatkan konsekuensi yang sangat buruk. Hal ini terkait dengan meningkatnya risiko kecelakaan, masalah konsentrasi, termasuk risiko peningkatan penyakit dan kenaikan berat badan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
