Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Adanya media sosial sangat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Terutama bagi ibu milenial yang memiliki kecenderungan kecemasan.
Saat seseorang menjadi ibu, level kecemasannya memang meningkat drastis. Faktor eksternal seperti komentar di media sosial atau melihat influencer, tak dipungkiri juga berdampak pada kondisi psikis.
Menurut Saskhya Aulia Prima, seorang psikolog keluarga, ada tiga hal penyebab kecemasan ibu milenial. Pemicunya antara lain social media shaming (dipermalukan di media sosial), paradox of choices (pilihan dan keputusan) serta expectation to be perfect (obsesi untuk menjadi sempurna).
" Salah satu pemicu kecemasan yang banyak dialami ibu masa kini atau milenial, adalah mom shaming. Sebuah tindakan yang mengkritisi secara berlebihan tentang pola asuh. Padahal, yang mengkritisi pun nggak punya background sesuai. Kalau dulu hanya dikritik suami dan mertua, sekarang tetangga online," ujar Saskhya saat ditemui dalam acara My Baby Momversity di Jakarta Pusat, Kamis 5 Desember 2019.
© Dream
Mom shaming dapat menyebabkan ibu tersinggung, merasa gagal, dan bisa meningkatkan risiko depresi. Ibu juga jadi bingung memilih hal yang terbaik untuk diri sendiri dan anaknya yang malah membuat kegalauan. Hal ini merupakan paradox of choices.

" Ternyata, kita bingung pola asuh mana yang harus dipilih. Akhirnya dicoba satu persatu, tapi kita jadi nggak percaya diri dengan apa yang dilakukan dan membuat pertumbuhan anak kurang optimal," ujar Saskhya.
Ibu milenial juga cenderung ingin menjadi seseorang yang sempurna dalam hal keluarga. Obsesi (expectation to be perfect) ini bisa membawanya pada kecemasan karena ingin segala sesuatunya sempurna.
" Setiap ibu pasti memiliki kegagalan, tapi yang dibutuhkan adalah konsistensi untuk tetap menjaga kesehatan dan pertumbuhan anak. Konsisten kan bukan harus sempurna," kata Saskhya.
© Dream
Dream - Memiliki anak merupakan sebuah tanggung jawab besar. Bukan hanya sekadar hamil, melahirkan dan memberinya nafkah materi, tapi sebuah komitmen jangka panjang atas amanah yang diberikan oleh Allah SWT.
Dibutuhkan kesiapan mental, fisik, finansial serta perencanaan masa depan yang baik saat anak hadir ke dunia. Tak heran kalau beberapa orangtua memutuskan untuk hanya memiliki satu anak saja.
Keberadaan anak tunggal ini kerap kali mendapat stigma negatif. Seperti manja, egois serta tak kenal kompromi karena dianggap terbiasa selalu dipenuhi keinginannya saat di rumah. Benarkah demikian?
Ketahui pendapat Denise Duval Tsioles, Ph.D., direktur Child Therapy Chicago dan Susan Newman, Ph.D., penulis buku " The Case for the Only Child: Your Essential Guide and Parenting an Only Child" .
© Dream
Beberapa orang beranggapan bahwa ketika dibesarkan sebagai anak tunggal, maka anak tidak akan belajar berbagi, berkomunikasi atau berinteraksi dengan anak-anak lain. Pendapat ini sangat tidak tepat.
" Anak-anak memiliki banyak kesempatan untuk sosialisasi, terutama ketika mereka bersekolah. Mereka berinteraksi dengan anak-anak lain sepanjang hari di sekolah, selama kegiatan ekstrakurikuler dan di berbagai fungsi sosial dan teman sebaya lainnya," kata Duval.
Dalam sebuah studi berjudul " Good for Nothing: Number of Siblings and Friendship Nominations Among Adolescents,” yang diterbitkan dalam Journal of Family Issues, para peneliti meminta 13.500 anak-anak untuk menyebutkan sepuluh teman. Diketahui ternyata anak tunggal cukup populer di antara teman sebayanya dibanding mereka yang memiliki saudara.
© Dream
Banyak yang bertanya, apakah anak akan merasa kesepian? Faktanya, justru memiliki waktu sendiri sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak dan bahkan dapat membentuk karakternya jadi lebih kuat.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin kesendirian dapat menyebabkan relaksasi dan mengurangi stres ketika individu secara aktif memilih untuk menyendiri. Menurut Newman lebih baik orangtua mengarahkan anak untuk memiliki kegiatan yang positif agar tak merasa kesepian.
© Dream
“ Salah satu keuntungan menjadi anak tunggal adalah bahwa tidak ada persaingan saudara kandung, tidak ada perselisihan dan tidak ada agresi verbal antara saudara,” kata Dr. Newman.
Lagipula tak selamanya hubungan kakak beradik bisa berjalan baik, justru konflik terjadi seumur hidup. Saudara kandung tidak selalu saling menyukai, bahkan hingga dewasa.
© Dream
Stereotip yang dimiliki banyak orang tentang anak tunggal sebenarnya berkaitan dengan temperamen. Menurut Dr. Duval Tsioles, beberapa anak tunggal dilahirkan dengan temperamen yang lebih sensitif, intens, dan reaktif.
" Anak tunggal cenderung perasa dan sangat reaktif. Jadi ketika sesuatu terjadi atau tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan, mereka cenderung memiliki reaksi yang lebih kuat, dan dianggap sebagai keegoisan," ujar Duval.
Dalam artikel yang dipublikas di Scientific American yang mengatakan bahwa menjadi anak tunggal bukanlah cara yang negatif atau " kurang sehat" untuk tumbuh dewasa. Menjadi anak tunggal hanya salah satu cara dan keputusan yang berbeda, dari keluarga kebanyakan.
Sumber: PureWow
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya