Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Hasil penelitian yang dijalankan tim dari Institut Huberech di Belanda mendapat temuan baru terkait infeksi virus corona. Penelitian itu menyebutkan virus pembawa Covid-19 dapat menginfeksi usus selain paru-paru.
Penelitian tersebut dibangun berdasarkan temuan lapangan yang menunjukkan hampir sepertiga pasien Covid-19 mengalami gejala gastrointestinal seperti mual dan diare. Virus ini pun diketahui dapat terdeteksi hingga ke sampel tinja.
Gabungan ilmuwan itu melakukan eksperimen dengan menyebarkan virus Covid-19 ke kultur sel usus manusia. Kemudian memantau respons sel terhadap virus selama beberapa waktu.
Mereka menemukan dalam 60 jam jumlah sel yang terinfeksi telah " meningkat secara dramatis" , sementara mekanisme pertahanan virus - yang dikenal sebagai gen yang dirangsang interferon - telah diaktifkan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam majalah Science pada 1 Mei 2020, menunjukkan virus baru bisa menginfeksi sel-sel serap - dikenal sebagai entrosit - yang melapisi permukaan dalam usus dengan cara yang sama seperti infeksi SARS. Kedua virus dapat menempel pada enzim reseptor yang dikenal sebagai ACE2, yang jumlahnya banyak di dalam sel.
" Tim berencana menggunakan kultur sel yang dikembangkan di laboratorium untuk melihat perbedaan antara infeksi pada sel-sel usus dan paru-paru - bagian lain yang kaya ACE2. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini memberikan bukti yang pasti bahwa virus corona baru dapat berkembang biak dalam sel-sel gastrointestinal risalah," jelas salah satu peneliti utama Universitas Erasmus, Bart Haagmans.
“ Tetapi kami belum tahu apakah (virus corona baru) muncul dalam usus pasien Covid-19 yang memainkan peran penting dalam penularan. Temuan kami menunjukkan kami harus melihat kemungkinan ini lebih dekat," lanjutnya.
Para peneliti Belanda terkejut menemukan jumlah reseptor ACE2 dalam sel-sel usus membuat sedikit perbedaan pada tingkat di mana usus bisa terinfeksi. Menunjukkan kendati tingkat rendah, enzim reseptor akan cukup untuk memungkinkan virus masuk ke dalam tubuh.
Para peneliti tersebut menggaungkan dua penelitian terbaru dari Universitas Sun Yat-sen (SYSU) Guangdong. Tim peneliti dari Rumah Sakit Afiliasi Fifth SYSU, mendapati temuan di antara 73 pasien Covid-19, asam ribonukleat (RNA) dari virus corona ada dalam 53 persen tinja.
Sekitar 23 persen hasilnya positif setelah sampel pernapasannya dinyatakan negatif.
Para peneliti mengatakan temuan mereka, dipublikasikan jurnal Gastroenterology bulan ini, mengungkapkan virus bisa menginfeksi usus dan bisa ditularkan melalui tinja, misalnya dalam bentuk partikel.
Sementara itu, rekan mereka dari Sixth Affiliated Hospital secara retrospektif menganalisis data dari 230 pasien Covid-19 dari Provinsi Guangdong, Hubei dan Jiangxi antara 19 Januari dan 6 Maret.
Mereka menemukan 21 persen pasien mengalami diare, dan ada korelasi yang jelas antara temuan terbaru ini dan pasien disebutkan menderita gejala yang lebih parah, seperti membutuhkan dukungan ventilator atau perawatan di ICU.
Sumber: South China Morning Post
Dream - Sebuah kejadian langka menimpa seorang pasien Covid-19. Meski dinyatakan pulih, di mata pasien tersebut masih meninggalkan jejak virus corona penyebab Covid-19.
Menurut peneliti, penemuan terbaru itu menunjukkan betapa pentingnya anjuran untuk mencuci tangan dengan sabun serta tidak menyentuh hidung, mulut dan mata.
Pasien berusia 65 tahun itu merupakan kasus positif Covid-19 pertama di Italia. Dia menunjukkan tanda-tanda konjungtivitis setelah dirawat 23 Januari di rumah sakit.
Konjungtivitis adalah kondisi mata merah akibat peradangan pada selaput yang melapisi permukaan bola mata dan kelopak mata bagian dalam.
Pada hari ketiga di rumah sakit, wanita itu menyerahkan hasil swab test mata. Ternyata tingkat partikel virus yang terdeteksi pada hasil swab test tersebut sangat tinggi, kata para peneliti.
Dari hasil swab test selanjutnya diketahui bahwa virus telah menggandakan dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa matanya berpotensi bisa menularkan virus corona.
" Kami menemukan bahwa cairan mata dari pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 dapat mengandung virus menular, dan karenanya dapat menjadi sumber infeksi yang potensial," tulis peneliti.
Virus tersebut tetap terdeteksi di matanya hingga setidaknya hari ke-20. Meski sempat hilang, tapi virus tersebut muncul kembali tujuh hari kemudian.
Para peneliti mencatat bahwa virus itu mampu tinggal di mata pasien lebih lama daripada di hidung.
" RNA dari SARS-CoV-2 terdeteksi dalam swab mata beberapa hari setelah tidak terdeteksi pada swab hidung," catat peneliti dalam penemuan yang ditulis dalam jurnal Annals of Internal Medicine.
Temuan ini menekankan pentingnya melakukan tindakan pencegahan penularan virus corona, seperti tidak menyentuh hidung, mulut, dan mata serta sering mencuci tangan dengan sabun.
Sumber: Daily Star
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya