6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Mengontrol asupan makanan tidak semata-mata mengikuti pola makan tiga kali sehari. Asupan gizi berkualitas pun penting untuk pertumbuhan fisik dan psikis anak-anak. Kurang gizi atau gizi buruk, apalagi pada 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak bisa menyebabkan stunting.
" Dalam 1.000 hari pertama itu, sebaiknya gizinya dijaga dan cegah infeksi berlebihan. Ibunya pun harus mencegah anemia dan mempertahankan berat badan ideal supaya tidak stunting," ujar Endang Achadi, Guru Besar FKM UI di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Minggu 22 Juli 2018.
Dikutip dari MCA Indonesia, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahu.
Kurangnya gizi yang mengakibatkan stunting bisa dilihat dari panjang tubuh bayi saat dilahirkan dan perkembangan kecerdasannya ketika SD.
" Kalau panjang tubuhnya kurang dari 47 sentimeter, berarti sudah mengalami stunting. Selain otot dan tinggi, organ lain pun tidak bekerja maksimal dan lebih rentan. Ketika dia sudah bisa berpikir, terlihat pertumbuhan otaknya juga," kata Endang.
Pengaruh stunting tidak pada usia dini. Karena itulah kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi mereka yang akan memiliki anak dan sudah memiliki anak. Yaitu mengonsumsi makanan kaya gizi saat hamil dan memberikan menu makanan kaya gizi pada anak-anak.
" Pengaruhnya bersifat permanen. Makanya, beberapa dampak stunting baru bisa dilihat dari kinerjanya saat sekolah atau bekerja," ungkapnya.
Panjang tubuh dan tinggi badan yang kurang akibat stunting, hanya 25 persen dipengaruhi oleh genetik. Maka dari itu, tinggi rata-rata seseorang bisa menjadi penentu kualitas hidupnya.
" Lingkungan berpengaruh sebesar 75 persen. Di Jepang tahun 1900-an, rata-rata tinggi laki-laki 157 sentimeter. Sekarang 170 sentimeter. Berarti lingkungannya sudah lebih baik," imbuhnya.
Demi terhindar dari stunting, ada asupan penting yang harus dipenuhi. Yaitu konsumsi karbohidrat, protein, vitamin dan mineral perlu diperhatikan sejak dini.
" Karbohidrat penting untuk dikonsumsi secukupnya. Begitu juga vitamin, mineral, protein nabati dan hewani. Tidak lupa olahraga," ujar Endang.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
