Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Hubungan tentu akan berubah drastis setelah menjadi pasangan suami istri. Terlebih saat buah hati hadir di tengah keluarga. Rasa sayang dan cinta pun berubah haluan.
Jadi lebih banyak untuk anak. Kita bakal memprioritaskan anak dibandingkan pasangan dalam segala hal. Padahal hal ini tak sepenuhnya tepat. Sahabat Dream tetap harus mengekspresikan cinta pada pasangan, bahkan level cinta harus lebih besar ke pasangan.
Mengapa demikian?
Penelitian menunjukkan orangtua yang saling mencintai akan membuat anak lebih bahagia dibanding anak yang tinggal di lingkungan yang kurang kasih sayang. Anak akan mendapatkan contoh panutan dari orangtua bagaimana cara untuk mengasihi satu sama lain.
Fakta lainnya, survei pada 2014 terhadap 40.000 rumah tangga di Inggris mengungkapkan bahwa remaja bahagia jika ibunya bahagia dengan hubungannya bersama pasangannya. Sementara, remaja yang hidup dari pasangan yang bercerai lebih merasa kurang bahagia.
Paw Research melakukan survei kepada anak muda mengenai mana yang lebih penting antara anak atau pernikahan yang harmonis. Yang memilih anak, ternyata menang dengan selisih 3 kali lipat ketimbang survei pada tahun 1997.
Mempertaruhkan waktu untuk menjaga anak merupakan investasi jangka pendek. Anak akan beranjak dewasa dan mencoba memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Anak akan menghabiskan waktu mereka dengan kegiatan hidup mereka masing-masing.
Ketika tugas sebagai orangtua telah selesai, maka kita hanya akan berdua pasangan untuk melanjutkan hidup. Ahli Gerontologi, Karl Pillmer melakukan wawancara terhadap 700 pasangan untuk bukunya yang berjudul 30 Lesson for Loving, menjelaskan tanda bahaya ketika pasangan memasuki usia 50 - 55 tahun.
" Sungguh mengejutkan ketika hanya sedikit dari para pasangan itu ingat punya waktu bersama pasangannya," kata Pillmer.
Lalu, banyak yang baru sadar pada umur 50-an bahwa selama ini mereka disibukan dengan urusan kantor dan anak sehingga mereka mengorbankan quality time dengan pasangan.
Penulis: Disha Naftali/ Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya