Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Suster Afit Rianti (Foto: Instagram Abeerianti)
Dream - Banyak orang yang tak tahu kalau tim medis, baik dokter, perawat, tim laboratorium, yang menangani langsung pasien Covid-19 tak boleh pulang ke rumah setelah bekerja. Mereka harus diisolasi selama 14 hari dan tinggal di tempat yang disediakan pemerintah.
Seperti pengalaman Afit Rianti, seorang perawat yang bekerja di salah satu RS rujukan Covid-19 di Jakarta. Ibu satu anak ini masih memiliki bayi yang harus minum air susu ibu (ASI) setiap hari.

(Suster Afit dan rekannya/ Foto: Instagram Abeerianti)
Suster Afit tak bisa bertemu dengan bayinya selama diisolasi. Pasalnya ia termasuk orang yang sangat berisiko sebagai pembawa virus (carrier) dan bisa menularkan ke orang sekelilingnya meski tak memiliki gejala.
Alhasil, Afit memompa ASI setiap hari di sela-sela pekerjaannya. Ia mengumpulkannya tetes demi tetes agar sang anak tetap mendapatkan ASI meskipun terpisah dari ibunya selama 14 hari.
© Dream
ASI yang dipompa dimasukkan dalam kantong dan disimpan dalam tas ASI khusus beserta ice gel. Malam harinya, sang suami datang untuk mengambil ASI. Luar biasa perjuangan suster Afit!
Pengalamannya menjalani isolasi sambil tetap memberikan ASI, dibuatnya video dan diunggah dalam YouTube channelnya. Bisa jadi inspirasi para ibu di luar sana yang sedang jadi pejuang ASI.
Semangat!
© Dream
Dream - Masuknya virus corona (Covid-19) ke Indonesia, pastinya menimbulkan kekhawatiran. Terutama para ibu yang masih menyusui dan baru saja melakukan perjalanan dari negara-negara dengan kasus corona yang cukup tinggi.
Mungkin banyak yang penasaran, bagaimana bila ibu menyusui terkena virus corona. Apakah harus tetap menyusui? Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan AyahASI membuat panduan singkat bila ada kasus ibu menyusui yang positif corona, berdasarkan informasi dari UNICEF.
Semua ibu yang terdampak dan berada di wilayah berisiko serta menunjukkan gejala demam, batuk atau kesulitan bernapas, harus segera mencari bantuan medis dan mengikuti petunjuk dari petugas kesehatan.
© Dream
Karena pertimbangan bahwa menyusui dan ASI tidak memiliki peran signifikan dalam penyebaran virus pernapasan lain, maka ibu dapat terus melanjutkan menyusui, sambil melakukan semua tindakan pencegahan yang diperlukan.
Untuk ibu yang memiliki gejala tapi masih bisa menyusui, tindakan pencegahan yang dimaksud adalah memakai masker ketika berada di sekitar anak. Termasuk ketika sedang menyusui), mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan anak (termasuk menyusui), dan membersihkan/memberi desinfektan pada permukaan yang terkontaminasi.

Hal tersebut sebagaimana seharusnya dilakukan untuk tiap kali seseorang yang telah dikonfirmasi atau dicurigai terkena COVID-19 berinteraksi dengan orang lain, termasuk anak anak.
Jika kondisi ibu terlalu payah atau harus diisolasi maka disarankan untuk memerah ASI dan memberikannya ke anak melalui cangkir dan/atau sendok bersih. Tetap jaga kesehatan, Sahabat Dream!
Sumber: AIMI
© Dream
Dream - Sekolah ditutup, seluruh pelajar di Indonesia diminta untuk belajar di rumah. Anak-anak juga tak bisa bermain seperti biasanya.
Untuk sementara, anak-anak diminta tak main beramai-ramai, apalagi mengunjungi rumah saudara atau mudik ke kampung halaman.
Hal ini lantaran pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan seluruh negara di dunia. Tangguh Langit Mahajuna, murid sekolah dasar (SD) di Jawa Barat sampai membuat puisi soal virus corona Covid-19.
Puisi ini diunggah Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, di akun Instagramnya. Menurut Kang Emil, puisi tersebut merupakan penyemangatnya sebagai Kepala Daerah untuk terus bekerja menangani kasus Covid-19 yang terus bertambah di Jawa Barat.
" PUISI PENYEMANGAT DARI ANAK SD. “ Waktu tahun 2019, kita nyaman. Dan 2018, kita nyaman.Tapi sekarang susah. Semua dewasa tidak bisa kerja.Dan semua anak tidak boleh sekolah," tulis Tangguh yang diunggah Kang Emil di Instagram.
Puisi Tangguh dituliskan di secarik kertas. Tulisannya tampak berantakan, tapi bagi Kang Emil puisi tersebut layak disebarkan untuk membangkitkan semangat.
© Dream
View this post on Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya