JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kegembiraan yang dirasakan saat tahu tengah berbadan dua pastinya dirasakan oleh banyak ibu. Setelah itu, bisa saja perasaan jadi sangat berubah. Penuh kepanikan, kosong, marah bahkan sedih.
Level hormon yang berubah secara cepat merupakan penyebab utamanya. Ditambah dengan perubahan fisik selama kehamilan, sulit makan, sulit tidur serta kekhawatiran terkait persalinan dengan perubahan drastis dalam hidup setelah bayi lahir.
" Anda tak sendirian, banyak wanita mengalaminya dan ini bukan karena tidak bersyukur saat hamil tapi memang kondisi fisik da psikologis ibu memang demikian meskipun levelnya berbeda-beda," ujar Rachel Gurevich, seorang dokter kandungan.
Jika ibu merasa sangat bersemangat, namun kemudian bersedih tak lama setelahnya, maka bisa jadi kondisi kimia otak sedang berubah dengan sangat drastis. Hormon kehamilan yaitu estrogen dan progesteron sedang melonjak.
" Tingkat estrogen melonjak selama 12 minggu pertama kehamilan, meningkat lebih dari 100 kali. Estrogen dikaitkan dengan serotonin kimia otak," ungkap Gurevich.
Hormon progesteron juga meningkat dengan cepat selama kehamilan, terutama selama tiga bulan pertama. Hormon ini memberitahu otot-otot untuk rileks, sebagian untuk mencegah kontraksi dini rahim.
Hormon relaksasi memang terdengar bagus. Tetapi, bagi sebagian wanita, progesteron membuat mereka “ terlalu” rileks. Ini bisa berarti kelelahan dan bahkan kesedihan. Progesteron adalah hormon yang jika levelnya tinggi bisa membuat ibu dengan mudah menangis saat melihat daun jatuh ke tanah.
" Untuk mengurangi kondisi ini lakukan latihan pernapasan rutin seperti yoga, tidur secara teratur, olahraga dan banyak membaca buku seputar kehamilan agar ibu mendapat informasi yang tepat sehingga kondisi psikologisnya lebih stabil. Bisa juga berkonsultasi lebih intensif dengan dokter kandungan," ungkap Gurevich.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
