Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Paparan pornografi dan pornoaksi bisa berasal dari banyak hal. Tayangan televisi, internet, majalah dan media lainnya. Sebagai orangtua kita tak mungkin untuk terus menutupinya.
Anak akan semakin besar, bergaul dengan banyak orang dan mengerti hal-hal yang berbau seksual. Untuk menangkal efek negatif dari pornografi, harus dimulai dari keluarga dengan memberikan pendidikan seksual yang memadai.
" Anak seringkali khawatir berbicara tentang hal seksual. Padahal mungkin yang dibicarakan juga untuk pencegahan. Remaja kalau diancam ketika ingin tahu, justru akan cari sendiri. Bahayanya jika informasinya nggak kredibel," ujar Inez Kristanti, seorang psikolog dalam peringatan Hari AIDS Sedunia oleh Durex di The Energy Building, Jakarta Pusat, Kamis 21 November 2019.
Edukasi seksual yang diberikan orangtua sejak dini dilakukan untuk mencegah tindakan seksual tidak bertanggung jawab pada anak. Oleh karena itu, orangtua diharapkan bisa memberikan informasi yang kredibel, netral, mudah dipahami serta tidak menghakimi. Dengan begitu, anak bisa mengetahui informasi seksual yang terkontrol dan baik.
" Perlu rasa empati ketika membicarakan hal seputar seksual. Lawan bicaranya pun harus meminimalisir kata tuduhan. Untuk yang bertanya biasanya memilih orang yang dirasa nyaman. Sehingga harus dibangun komunikasi yang hangat untuk membahas seputar seks," ungkap Inez.
© Dream
Untuk langkah awal, orangtua bisa mulai dengan menjelaskan soal kesehatan reproduksi secara bertahap. Mulailah saat anak masih balita.
" Nggak bisa umur 14 tahun semuanya dikasih tahu, jadi harus bertahap. Mulai usia 3-5 tahun bisa dikasih tahu perbedaan laki-laki dan perempuan, serta mengapa diciptakan berbeda," kata Hanny Nilasari, Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI).
Saat anak memasuki usia remaja, berikan edukasi seputar organ reproduksi serta kebersihan genital. Bimbing anak ketika mereka memasuki masa pubertas.
" Misalnya akan haid atau mimpi basah, nasehatnya nanti akan berbeda juga," ungkap Hanny.
© Dream
Tak berhenti sampai di situ, orangtua perlu memberi tahu jika organ reproduksi anak telah siap mengandung serta seputar kontak fisik antara laki-laki dan perempuan.
“ Biasanya berhenti sampai bagaimana menjaga kebersihan genital saja. Tapi kontak seksual laki-laki dan perempuan bisa hamil itu nggak terjadi. Itu yang disayangkan,” imbuhnya.
Maka dari itu, diharapkan orangtua memiliki kesiapan untuk memberikan edukasi secara bertahap mulai dari balita hingga remaja. Selanjutnya, edukasi dapat dilakukan secara formal di sekolah, informasi diberikan oleh para guru yang kompeten.
© Dream
Dream - " Bayi berasal dari perut ya, Bunda?" , " Kok bisa ada dedek bayi di perut Bunda?" . Hal itu mungkin gambaran pertanyaan yang dilontarkan anak terkait seks. Keingintahuan mereka merupakan hal wajar dan pertanda kalau anak mulai berpikir kritis.
Akan sangat baik jika anak mendapat informasi soal pendidikan seks dari orangtuanya. Untuk itu, Sahabat Dream yang buah hatinya sudah mulai kritis dan melontarkan banyak pertanyaan, persiapkan mental untuk menjawabnya.
Ingat, jangan memarahi jika anak mulai bertanya soal seks. Lebih baik Anda membahasnya bersama anak. Lalu bagaimana membicarakan pendidikan seks pada anak? Coba empat langkah berikut.
Ikuti ABLE
Salah satu yang bisa diikuti saat mulai membicarakan seks pada anak adalah ABLE (ask, be ready to answer, listen to what they're saying, and encourage more questions). Hal tersebut direkomendasikan oleh American Academy Pediatric (AAP).
" Bisa memulai dengan bertanya padanya, tapi pastikan siapkan diri untuk menjawab, lalu dengarkan dengan seksama penjelasan anak. Minta juga anak mengajukan pertanyaan seputar seks yang ingin diketahuinya pada Anda," kata Cora Collette Breuner, MD, kepala AAP Committee on Adolescence.
© Dream
Jika anak mulai bertanya, jawablah inti dari pertanyaan. Apabilan jawaban Anda sudah membuatnya puas dan ia kembali bermain dan fokus pada hal lain, berarti penjelasan bisa berhenti. Tapi jika anak masih penasaran dan bingung, tugas Anda menjawab berarti belum selesai. Sesuaikanjawaban dengan rasa penasaran dan keingintahuan anak.
Jangan menunda
Untuk anak perempuan sebaiknya dijelaskan soal haid dan konsekuensinya sebelum mereka mengalami. Misalnya ketika ibu, tante atau sepupu perempuannya harus menggunakan pembalut. Hal itu bisa jadi awal untuk menjelaskannya. Biasanya anak mulai haid di usia 9 atau 10, di usia 8 Anda sudah bisa menjelaskan. Bisa memberikan buku soal reproduksi perempuan dengan gambar agar anak lebih mengerti.
" Lalu pada anak laki-laki, biasanya lebih mudah dijelaskan oleh ayah. Untuk lebih mengerti bisa juga memberikan buku soal reproduksi laki-laki. Penting juga diajarkan bagaimana mereka harus melindungi dan menjaga kesehatan organ intimnya," kata Breuner.
© Dream
Jika anak mulai memasuki masa puber dan mengajukan pertanyaan, tandanya Anda harus siap menjawab apapun itu. Usahakan untuk membekali diri dengan informasi yang tepat. Cari sumber info yang berkualitas atau bisa mengajaknya sesekali ke dokter. Dokter anak biasanya terlatih menjelaskan hal terkait kesehatan reproduksi anak.
Buat anak merasa nyaman membicarakannya dengan Anda dan pasangan. Jangan sampai ia mendapat informasi yang salah soal seks. Biasanya jika anak tak mendapat info yang tepat dari orangtua, ia akan mencarinya di luar, bisa dari teman atau internet. Efeknya bisa saja negatif.
Sumber: AAP
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya