Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sarwendah (Foto: Instagram Sarwendah)
Dream - Sarwendah dikenal sebagai ibu yang sangat telaten dalam mengurus anak. Namun ada kalanya Sarwendah harus mengurus banyak hal, sehingga harus meminta bantuan orang lain untuk mengurus anaknya yang paling kecil, Thania.
Salah satu hal yang kerap membuat Sarwendah kerepotan adalah membuat makanan pendamping ASI (MPASI). Dulu, istri Ruben Onsu ini selalu membuat makanan sendiri untuk Thalia, putri pertamanya.
Kadang, masakannya kurang pas. Bubur terlalu encer dan anaknya tak mau makan atau kondisinya sudah dingin dan rasanya berubah. Masalah ini kerap terjadi saat ia pergi ke luar kota atau ke luar negeri.
“ Aku protektif banget dengan anak pertama. Aku berusaha bikin bubur pertama kali supaya homemade. Tapi kadang suka kelembekan dan kalau lewat jam makannya, anakku suka cranky,” kata mantan personel Cherrybelle di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Kamis 31 Oktober 2019.
© Dream
Tak jarang, pelantun 'Patah Jadi Dua' ini membuatkan bubur dengan rasa sama. Hal ini membuat anaknya merasa bosan dan kehilangan nafsu makan.
“ Inginnya anak happy. Kadang terlalu fokus ke bikin bubur, jadi akhirnya ‘ah udah deh ini saja’. Takutnya malah nggak mau makan. Terlalu cepat dibikin, malah dingin," ungkap Wendah
Kebingungannya semakin menjadi ketika anaknya harus mencoba berbagai jenis makanan. Sementara ia juga harus mengurus Ruben, bisnis dan keperluan pribadinya. Akhirnya, saat sibuk Sarwendah menggantinya dengan bubur instan.
“ Aku pikir, apa yang kita bikin sendiri adalah yang terbaik. Padahal, belum tentu gizinya sesuai. Yang instan justru nutrisinya sudah diukur. Ya, semoga lebih banyak bonding time daripada masak time,” tutupnya.
© Dream
Dream - Masih banyak orangtua yang tak menyadari kalau anaknya mengalami masalah kekurangan gizi gizi, sampai pada level terkena stunting. Stunting sendiri adalah masalah kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.
Efeknya berupa gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Bukan hanya berdampak fisik tapi juga kemampuan kognitif.
Kekurangan gizi ini,, baru akan nampak setelah anak berusia 2 tahun. Salah satu satu penyebabnya adalah pemberian menu makanan pendamping ASI (MPASI) yang kurang tepat.
Hal tersebut diungkapkan dr. Agnes dalam YouTube Channel Meet Dokter Agnes, seorang spesialis anak. Menurutnya, menu saat memberikan MPASI harus memperhatikan unsur mikronutrien dan makronutrien.
" Katanya MPASI tunggal itu adalah makanan pendamping ASI yang disarankan WHO dan diberikan pada dua minggu pertama. Padahal WHO tak pernah memberikan statement seperti itu," kata dr Agnes.
© Dream
Makanan pendamping ASI tunggal ini contohnya hanya memberikan satu makanan tertentu saja selama dua minggu. Misalnya hanya pisang, avokad atau apel. Padahal ini tidak tepat.
" Menu MPASI, kandungan zat gizinya harus sama dengan ASI, seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral," pesan dr. Agnes.
Lemak seringkali terabaikan saat pemberian MPASI. Padahal lemak sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak bayi.
© Dream
Untuk sumber lemak dan protein, menurut dr. Agnes bisa didapatkan dari avokad atau kacang-kacangan, tapi disarankan dari sumber hewani. Seperti ikan, daging atau ayam. Ia juga menyarankan untuk memadukan menu MPASI rumahan dengan menu makanan bayi kemasan.
Pasalnya, makanan bayi kemasan sudah terfortifikasi, yaitu mendapat zat besi tambahan yang bisa memenuhi kebutuhan bayi per hari. Jadi kebutuhan zat gizi bayi terpenuhi secara optimal.
Bukan hanya vitamin dari sayuran dan buah saja, karena dianggap sehat. Tapi juga asupan protein dan zat besi yang sangat penting bagi pertumbuhan otaknya.
© Dream
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya