Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kondisi pandemi saat ini memang sangat menyiksa bagi semua orang, terutama bagi anak-anak. Buah hati yang biasanya main di luar rumah, bergerombol di taman bermain dengan teman-temannya, kini hanya bermain di rumah saja.
Sekolah pun demikian, dilakukan secara online dengan mengandalkan conference call dan atau video call. Awalnya, bagi anak-anak belajar secara online melalui video memang terasa menyenangkan. Tapi lama-kelamaan mereka akan merasa tersiksa.
Bukan hanya bagi anak, tapi juga orang dewasa yang melakukannya secara terus-menerus. Kondisi jenuh, banyak tugas dan tak bisa bersosialiasi dengan teman-teman, membuat anak jadi sangat sedih.
" Mereka mungkin tak mengungkapkannya. Melakukan video conference sampai terasa melelahkan. Hanya melihat wajah, tidak bersentuhan, bermain bersama, lama-kelamaan jadi hal yang tidak menyenangkan tapi harus dilakukan," kata Lee Scott, seorang pakar pendidikan anak, dikutip dari Huffingtonpost.
© Dream
Penting bagi orangtua untuk memahami hal ini. Jika anak menolak untuk melakukan conference call, membuat tugas sekolah dengan maksimal, atau terlihat lebih murung dari biasanya, bisa jadi pertanda kalau anak sedang mengalami stres.
“ Anak-anak mengalami kehilangan. Ini benar-benar menyedihkan bagi mereka. Jangan meremehkan betapa sulitnya anak mengatasi kondisi ini secara emosional," kata Scott.
Alih-alih mencoba memperbaiki kesedihan anak dengan membuat lebih banyak teman bermain online, bantu anak mengekspresikan apa yang dialaminya. Bisa melalui bicara, menggambar atau membuat sesuatu yang menggambarkan perasaannya.
© Dream
Dream - Sudah dua bulan sekolah dari rumah (school from home/ SFH) diterapkan demi mengurangi penularan virus Covid-19. Kondisi ini memang tidak ideal bagi anak-anak. Rasa jenuh mulai muncul, apalagi tugas tetap banyak dan diberikan oleh tiap guru mata pelajaran
Saskhya Aulia Prima, M.Psi, psikolog dan Co Founder Rumah Konsultasi TigaGenerasi menyampaikan sebagian anak akan merasa kesulitan dalam melakukan SFH karena anak tidak memiliki motivasi dari lingkungan.
Biasanya, anak belajar bersama teman-temannya, namun sekarang mereka menemukan situasi baru. Situasi ini yang membuat anak harus menyesuaikan diri agar tidak merasa bosan.
" Dalam hal ini orangtua memiliki peran tiga kali lipat, urusan pekerjaan, urusan rumah, dan mendidik anak,” kata Saskhya, dikutip dari Liputan6.com.
© Dream
Untuk membantu anak agar tidak merasa bosan saat SFH, Saskhya menyarankan untuk melakukan pengubahan tempat belajar anak. Orangtua bisa menyiapkan ruang khusus yang nyaman untuk anak belajar.
“ Atau dapat juga belajar ala-ala piknik dengan menggelar tikar di halaman atau teras rumah.”
© Dream
Selain itu, anak harus diberi selang waktu saat belajar. Misal, membuat anak bergerak dengan melakukan kegiatan rumah yang sederhana. Seperti memasak masakan sederhana yang disukai anak. Anak juga harus diberi ruang bermain secara mandiri.
“ Biarkan mereka mengeksplorasi permainan yang disukai untuk menciptakan hal kreatif. Membiarkan mereka bermain sendiri bukan berarti menelantarkan.”
Hal yang tak kalah penting adalah membuat sistem pembelajaran kreatif. Orangtua dapat memberikan pelajaran kepada anak dengan cara-cara yang unik.
“ Misal, anak diminta mengambil daun warna hijau kemudian belajar menggunakan daun tersebut," pesannya.
Laporan Ade Nasihudin Al Ansori/ Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya