Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Mathew Tinggal Di Dekat Perbatasan Belgia (Onislam.net)
Dream - Mathew , seorang Perancis, menemukan Islam setelah ikut bermain sepakbola bersama kelompok dakwah muslim Fi Sabil Allah.
Mathew lahir di wilayah Timur Laut negeri Perancis. Kawasan ini dekat dengan perbatasan Belgia. Mathew dibesarkan dalam keluarga yang tidak terlalu taat dalam agama.
Perkenalan Mathew dengan Islam diawali saat bergabung bersama teman-temannya yang kebanyakan adalah imigran dari Maroko, Turki, Aljazair dan Tunisia. Bersama mereka, Mathew sering bermain olahraga, terutama sepakbola.
Kebetulan saat itu kelompok dakwah muslim fi sabil Allah sedang berkunjung ke lapangan di mana Mathew sedang bermain bersam teman-teman imigrannya. Usai bermain, mereka berdiskusi masalah agama. Mathew biasanya akan menjauh dan duduk sendiri di pinggir lapangan.
Namun salah satu dari anggota fi sabil Allah memanggilnya untuk bergabung. Mereka kemudian bersama-sama pergi ke sebuah masjid di dekat tempat mereka bermain. Mereka kembali berdiskusi tentang Islam, kali ini bersama Mathew.
Mathew ternyata tertarik dengan diskusi tersebut dan ia pun mulai banyak bertanya tentang Islam setelahnya. Mathew mulai sering datang ke masjid.
Mathew mulai melihat banyak hal tentang Islam. Dia sangat takjub dengan Muslim yang berpuasa selama satu bulan di bulan Ramadan. Dia heran bagaimana bisa mereka menahan lapar dan haus hampir sepanjang hari dan mereka tetap bisa bekerja seperti biasanya.
Saat itu Mathew masih sangat muda dan dia terkejut mendapati kedua orangtuanya tak mempermasalahkan keislamannya. Mathew mengatakan alasan orangtua mendukung keputusannya itu karena mereka mencintainya.
Selain itu, orangtua Mathew tak ingin anaknya salah pergaulan. Mereka senang karena Mathew lebih sibuk berada di masjid daripada di jalanan mengganggu orang, mencuri dan berbuat onar.
Meski mereka bukan muslim, tapi mereka berkata bahwa Mathew sangat beruntung menemukan Islam. Mathew ingin orang-orang mengetahui Islam melalui usaha mereka sendiri. Mereka bisa membaca buku dan mencari informasi di internet.
Bagi Mathew, Islam seperti sebuah obat. Islam menawarkan kasih sayang dan saling menghormati kepada sesama. Saat ini, Mathew tengah menempuh studi master bisnis administrasi di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.
(Sumber: Onislam.net)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam