Aipda Bambang Tembus Perbatasan Malaysia demi Didik Warga

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 26 November 2019 09:01
Aipda Bambang Tembus Perbatasan Malaysia demi Didik Warga
Dia ingin mencerdaskan masyarakat di daerah terpencil.

Dream - Aipda Bambang Supriyanto kerap menyambangi desa-desa di Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Kanit Binmas Polsek Jangkang itu terdorong menjadi tenaga pendidik di daerah terpencil. Dia mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bekerja sama dengan Yayasan Setia Bhakti.

Bambang mendatangi kantong wilayah anak putus sekolah dan mengajak mereka untuk kembali bersekolah melalui pendidikan nonformal.

" Niat saya menjadi guru bantu hanya ingin mencerdaskan masyarakat di daerah terpencil," ucap Bambang, dikutip dari Liputan6.com, Senin 25 November 2019.

Bambang berusaha menuntaskan pendidikan warga di desa terpencil. Usaha ini direspons masyakarat karena dia ingin memberantas buta aksara.

Sejak 2016, dia mulai menggelar pendidikan non-formal atau kejar paket A, B, dan C yang setara dengan pendidikan formal SD, SMP, dan SMA.

1 dari 5 halaman

Lewati Bukit dan Hutan Belantara

Aktivitas belajar mengajar itu digelar di gereja, balai pertemuan, hingga rumah kepala dusun.

" Jadwal mengajar kami dilakukan setelah selesai masyarakat beribadah di gereja. Kami dibantu 20 tutor untuk mengajar di PKBM di 12 desa," ujar dia.

Bambang menuturkan, mengajar di daerah pelosok butuh perjuangan ekstra. Untuk bisa mencapai dusun-dusun yang berada di perbatasan RI-Malaysia ini harus melewati bukit, hutan belantara, dan hamparan kebun sawit dengan kondisi jalanan berlumpur.

Faktor ini menyebabkan angka putus sekolah di desa terpencil di Kecamatan Sanggau sangat tinggi. Tapi, berkat usaha Bambang, minat belajar anak-anak di sana sejak beberapa tahun lalu mulai tumbuh.

" Jadi rata-rata anak di sini hanya sampai kelas 2 SD, karena sekolah di sana jauh-jauh, lewatin bukit, jalan lumpur. Ada juga satu desa umur 17 tahun ke atas buta aksara," kata dia.

Kecamatan Sanggau berada di pelosok Kalimantan Barat. Topografi wilayah ini perbukitan, dikelilingi hutan dan perkebunan sawit berbatasan langsung dengan Negara Malaysia.

(Sumber: Liputan6.com/Achmad Sudarno)

2 dari 5 halaman

HP Disita Guru, Siswa SMP Bawa Parang ke Sekolah Minta Dikembalikan

Dream - Seorang remaja lelaki membawa celurit ke sekolah. Aksi nekat itu dilakukannya untuk meminta ponsel miliknya yang tengah disita dikembalikan.

Video ini menjadi sorotan warganet usai diunggah di Twitter @jogjaupdate. Dilaporkan Pidjar.com, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 5 September 2019 di SMP Negeri 5 Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Remaja yang membawa celurit tersebut berinisial G, siswa kelas 8 SMP Negeri 5 Ngawen.

Ponsel milik G disita guru agama lantaran ketahuan bermain gim saat jam pelajaran. Aturan sekolah memang tidak mengizinkan siswa bermain ponsel ketika jam belajar mengajar.

" Rasanya marah pas hp saya diambil," kata G, Rabu, 11 September 2019.

3 dari 5 halaman

Emosi Meluap

Usai insiden itu, G melanjutkan pelajaran hingga selesai. Sore harinya, dia menghubungi guru agama yang menyita ponselnya, Nazid.

Dalam pesan singkat itu, G bertanya kapan Ponselnya dapat diambil. Tapi, seiring percakapan yang muncul, remaja berperawakan tinggi itu marah.

Dia menulis nada ancaman akan mengobrak abrik sekolah, andai Ponsel miliknya tak juga dikembalikan.

Keesokan harinya, ketika setengah pelajaran berlangsung, emosi G memuncak. Dia membawa celurit di rumah dan kembali ke sekolah.

" Saya emosi ingin mengambil handphone saya. Saya membawa sabit ingin mengambil handphone saya," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Tetap Siswa Sekolah

Takut terjadi apa-apa, seperti yang terlihat di video, si guru melempar ponsel milik G. Setelah ponsel miliknya dikembalikan G pulang.

Wali kelas G, Estuarso mengatakan, kejadian ini murni karena G ingin ponselnya kembali. Tetapi, dia tak mengetahui prosedur yang benar untuk mengembalikan ponsel.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP 5 Ngawen, Sriyana mengatakan, meski sempat ada insiden ini, sampai saat ini G masih berstatus sebagai siswanya.

Pihak sekolah juga tidak akan mengeluarkan G dan selalu memberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah.

“ Dia tetap anak didik kami dan akan kami bimbing siswa didik kami,” ucap Sriyana.

(Sah, Sumber: Pidjar.com)

5 dari 5 halaman

Ini Videonya

Tidak terjadi di generasi 90an
*konon kabarnya terjadi di Gunungkidul @zumha_ pic.twitter.com/IUg67Xj5PY

— jogjaupdate.com (@JogjaUpdate) September 11, 2019

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian