Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bambang Supriyanto, Tertegun Melihat Anak-anak Di Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar) Buta Huruf. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)
Dream - Aipda Bambang Supriyanto kerap menyambangi desa-desa di Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Kanit Binmas Polsek Jangkang itu terdorong menjadi tenaga pendidik di daerah terpencil. Dia mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bekerja sama dengan Yayasan Setia Bhakti.
Bambang mendatangi kantong wilayah anak putus sekolah dan mengajak mereka untuk kembali bersekolah melalui pendidikan nonformal.
" Niat saya menjadi guru bantu hanya ingin mencerdaskan masyarakat di daerah terpencil," ucap Bambang, dikutip dari Liputan6.com, Senin 25 November 2019.
Bambang berusaha menuntaskan pendidikan warga di desa terpencil. Usaha ini direspons masyakarat karena dia ingin memberantas buta aksara.
Sejak 2016, dia mulai menggelar pendidikan non-formal atau kejar paket A, B, dan C yang setara dengan pendidikan formal SD, SMP, dan SMA.
Aktivitas belajar mengajar itu digelar di gereja, balai pertemuan, hingga rumah kepala dusun.
" Jadwal mengajar kami dilakukan setelah selesai masyarakat beribadah di gereja. Kami dibantu 20 tutor untuk mengajar di PKBM di 12 desa," ujar dia.
Bambang menuturkan, mengajar di daerah pelosok butuh perjuangan ekstra. Untuk bisa mencapai dusun-dusun yang berada di perbatasan RI-Malaysia ini harus melewati bukit, hutan belantara, dan hamparan kebun sawit dengan kondisi jalanan berlumpur.
Faktor ini menyebabkan angka putus sekolah di desa terpencil di Kecamatan Sanggau sangat tinggi. Tapi, berkat usaha Bambang, minat belajar anak-anak di sana sejak beberapa tahun lalu mulai tumbuh.
" Jadi rata-rata anak di sini hanya sampai kelas 2 SD, karena sekolah di sana jauh-jauh, lewatin bukit, jalan lumpur. Ada juga satu desa umur 17 tahun ke atas buta aksara," kata dia.
Kecamatan Sanggau berada di pelosok Kalimantan Barat. Topografi wilayah ini perbukitan, dikelilingi hutan dan perkebunan sawit berbatasan langsung dengan Negara Malaysia.
(Sumber: Liputan6.com/Achmad Sudarno)
Dream - Seorang remaja lelaki membawa celurit ke sekolah. Aksi nekat itu dilakukannya untuk meminta ponsel miliknya yang tengah disita dikembalikan.
Video ini menjadi sorotan warganet usai diunggah di Twitter @jogjaupdate. Dilaporkan Pidjar.com, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 5 September 2019 di SMP Negeri 5 Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta.
Remaja yang membawa celurit tersebut berinisial G, siswa kelas 8 SMP Negeri 5 Ngawen.
Ponsel milik G disita guru agama lantaran ketahuan bermain gim saat jam pelajaran. Aturan sekolah memang tidak mengizinkan siswa bermain ponsel ketika jam belajar mengajar.
" Rasanya marah pas hp saya diambil," kata G, Rabu, 11 September 2019.
Usai insiden itu, G melanjutkan pelajaran hingga selesai. Sore harinya, dia menghubungi guru agama yang menyita ponselnya, Nazid.
Dalam pesan singkat itu, G bertanya kapan Ponselnya dapat diambil. Tapi, seiring percakapan yang muncul, remaja berperawakan tinggi itu marah.
Dia menulis nada ancaman akan mengobrak abrik sekolah, andai Ponsel miliknya tak juga dikembalikan.
Keesokan harinya, ketika setengah pelajaran berlangsung, emosi G memuncak. Dia membawa celurit di rumah dan kembali ke sekolah.
" Saya emosi ingin mengambil handphone saya. Saya membawa sabit ingin mengambil handphone saya," kata dia.
Takut terjadi apa-apa, seperti yang terlihat di video, si guru melempar ponsel milik G. Setelah ponsel miliknya dikembalikan G pulang.
Wali kelas G, Estuarso mengatakan, kejadian ini murni karena G ingin ponselnya kembali. Tetapi, dia tak mengetahui prosedur yang benar untuk mengembalikan ponsel.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP 5 Ngawen, Sriyana mengatakan, meski sempat ada insiden ini, sampai saat ini G masih berstatus sebagai siswanya.
Pihak sekolah juga tidak akan mengeluarkan G dan selalu memberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah.
“ Dia tetap anak didik kami dan akan kami bimbing siswa didik kami,” ucap Sriyana.
(Sah, Sumber: Pidjar.com)
Tidak terjadi di generasi 90an
*konon kabarnya terjadi di Gunungkidul @zumha_ pic.twitter.com/IUg67Xj5PY
— jogjaupdate.com (@JogjaUpdate) September 11, 2019
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya