Alasan Kemenag Berencana Rombak Isi Buku Pelajaran Agama

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Rabu, 20 November 2019 12:00
Alasan Kemenag Berencana Rombak Isi Buku Pelajaran Agama
Perombakan jadi hal biasa.

Dream - Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi, mengatakan, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) berencana melakukan perombakan buku ajar agama arena ingin menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

" Ini sudah menjadi bagian dari program untuk menyongsong generasi Indonesia unggul. Sehingga ini menjadi bagian dari tugas untuk menyiapkan SDM yang berkualitas," ujar Zainut dikutip dari laman resmi Kemenag, Rabu 20 November 2019.

Dengan evaluasi materi buku ajar agama, Kemenag memastikan tidak ada lagi materi yang berisi konten radikal, intoleransi dan khilafah. Apabila ada buku agama yang mengandung materi tersebut, tentu akan merusak generasi bangsa.

Meski demikian, kata dia, evaluasi atau perombakan di dalam buku pelajaran merupakan hal biasa. Menurutnya, perombakan tersebut semata-mata untuk perbaikan kualitas pendidikan.

" Itu sudah lama kan itu memang bagian dari kerja Ditjen Pendis," kata dia.

Ke depannya, generasi penerus bangsa diharapkan tidak terpapar materi mengenai radikalisme. Di dalam materi tersebut, biasanya mengandung ajaran intoleransi yang menganggap orang lain salah apabila tidak sepemikiran dengannya.

Menurut Zainut, paham intoleransi juga akan berdampak pada tidak menerimanya nilai kebangsaan seperti Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai ideologi Indonesia.

" Paham intoleran juga mengandung muatan menafikkan atau tidak menerima nilai-nilai kesepakatan yang sudah kita ketahui bersama sebagai pedoman kita berbangsa dan bernegara," kata dia.

1 dari 5 halaman

Kemenag Akan Ubah Buku Ajar Agama yang Mengandung Unsur Khilafah

Dream - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama berencana merombak buku ajaran agama yang mengandung unsur khilafah.

" Memang ada tim yang sudah membahas itu untuk melihat, mana yang perlu dihapus, mana yang enggak," ujar Menteri Agama, Fachrul Razi, di Jakarta, Selasa 12 November 2019.

Meski demikian, Fachrul belum dapat menjelaskan secara rinci mengenai bagian mana saja yang perlu dihapus di buku ajar agama. " Saya secara teknis belum sampai, ya," ucap dia.

Menurutnya, tim Kemenag sudah mulai membahas rencana perubahan tersebut sejak era Menteri Agama dijabat oleh Lukman Hakim Saifuddin.

" Kelompok kerja sudah disusun dan sudah mulai bekerja sebelum saya masuk," kata dia.

2 dari 5 halaman

Soal Kabar Penghapusan Materi Perang di Buku Sejarah Islam, Ini Kata Kemenag

Dream - Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar, mengatakan, Kementerian Agama tidak akan menghilangkan materi perang dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

" Perang adalah bagian dari fakta sejarah umat Islam. Tidak benar kalau itu akan dihapus," ujar Ahmad dalam keterangan tertulisnya, Senin 16 September 2019.

Menurut Ahmad Umar, dalam melakukan review kurikulum, Kemenag melakukan beberapa kajian, seperti pendidikan sejarah Islam itu harus membentuk karakter yang dapat membekali muatan kognitif dan psikomotorik siswa.

" Review lebih untuk menonjolkan bagaimana setiap fakta sejarah itu menjadi tonggak pembangunan peradaban," kata dia.

Buku Sejarah Kebudayaan Islam (Foto NU Online)© nu online

Buku Sejarah Kebudayaan Islam (Foto NU Online)

Selain itu, Kemenag juga harus memberikan fakta sejarah yang lengkap dalam rangka penguatan visi pendidikan. Dengan dasar itulah, materi perang dalam buku SKI tidak akan sepenuhnya dihapus.

" Kalau sebelumnya peperangannya yang dijadikan tonggak sejarah, ke depan, tonggak pendidikan sejarah kebudayaan Islam adalah lebih menitikberatkan pada pembangunan peradaban dan kebudayaan Islam," ucap dia.

Nantinya, buku SKI akan lebih menitikberatkan pada nilai-nilai kejayaan Islam dan cara Rasulullah SAW menyebarkan Islam dengan cara yang santun.

3 dari 5 halaman

Mulai Tahun Depan Buku Sejarah Islam Tak Memuat Materi Perang

Dream - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama akan membuat buku sejarah kebudayaan Islam (SKI), tanpa memasukkan cerita peperangan yang dilakukan Rasullah SAW. Buku SKI tersebut rencananya akan mulai terbit tahun depan.

" Dilakukan untuk tahun yang akan datang. Sengaja dilakukan seperti itu agar Islam itu (dikenal) tidak hanya perang," ujar Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar di kantornya, Jakarta, Jumay 13 September 2019.

Dalam buku SKI itu, nantinya akan berisi pengajaran mengenai kejayaan Islam yang disebarkan oleh Rasullah SAW hanya dalam kurun waktu 22 tahun saja.

" Kita angkat bukan sisi perangnya tapi perjuangan-perjuangan Rasulullah dan sirah nabaiyah, dalam membawa Islam yang damai, Islam yang menyejukkan, Islam yang tidak keras. Intinya itu," kata dia.

Ahmad menjelaskan, Kemenag membuat perlombaan dalam menyusun materi buku SKI tanpa materi perang itu. Nantinya, Kemenag akan melakukan uji publik terlebih dahulu sebelum disebar ke madrasah-madrasah.

" Ini baru kita proses dan ini melalui lomba, kita lombakan supaya kompetitif, harus guru agama, harus guru umum karena konten science dan guru yang nanti membimbing. Ini upaya kami untuk menumbuhkan generasi yang humanis toleran yang bisa peduli terhadap lingkungan," ucap dia.

Buku SKI tanpa materi perang itu nantinya akan diterapkan di semua level yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

4 dari 5 halaman

Melacak Jejak Sejarah Islam Uzbekistan di TMII

Dream - Negara sempalan Uni Soviet, Uzbekistan menyimpan daya tarik kesejarahan. Di negara ini, sejumlah ulama ahli bidang filsafat, kedokteran, dan matematika.

Kepala Bidang Bayt Al-Quran LPMQ Kementerian Agama (Kemenag) Nani Sutiati, Uzbekistan melahirkan ulama yang ahli di bidang ilmu pengetahuan, baik filsafat, kedokteran, maupun matematika. Nani menyebut sejumlah nama, antara lain, Ibnu Sina dan al-Khawarizmi.

Sementara dalam bidang tasawuf, Uzbekistan melahirkan al-Kalabazi, penulis kitab tasawuf terkenal. Negeri di kawasan Asia Tengah ini juga melahirkan banyak tarekat, yang paling terkenal adalah Tarekat an-Naqsyabandiyah.

“ Uzbekistan terkenal dengan kota-kota tuanya, di antaranya Samarkand, Tashkent, Tirmiz, Khiva dan lain-lain,” kata Nani, Rabu, 6 Februari 2019.

Acara diskusi Uzbekistan-Indonesia© Istimewa

Di Nusantara, kata Nani, jejak ulama Uzbekistan juga terlihat pada masa islamisasi Nusantara, sekitar abad ke-14 Masehi. Di Jawa, tokoh islamisasi yang mahsyur berasal Samarkand, yaitu Syekh Asmorokondi (as-Samarqandi) yang dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Beberapa berita menyebutkan, Syekh Asmorokondi merupakan sesepuh para wali di Jawa, ayah dari Sunan Ampel.

5 dari 5 halaman

Tidak Banyak Sumber Sejarah?

Selain itu, diceritakan Syekh Jumadil Kubro, yang disebutkan sebagai ayahnya Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak, juga berasal dari Uzbekistan.

Tetapi, hingga saat ini, tidak banyak ditemukan sumber-sumber sejarah tentang kedua tokoh tersebut kecuali dari bukti arkeologis berupa nisan makamnya yang saat ini sangat ramai diziarahi.

Untuk menggali jejak sejarah Islam di Uzbekistan itu, Kemenag dan Kementerian Pariwisata Uzbekistan rencananya akan menggelar pameran foto bertajuk Uzbekistan Negeri Para Imam di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, 7 hingga 17 Februari 2019. Nani mengatakan, pameran digelar dalam rangka memperingati satu tahun bebas visa WNI ke Uzbekistan.

“ Pameran dibuka Kamis, 7 Februari 2019 pukul 09.00 WIB oleh Duta Besar Uzbekistan, Dr Ulugbek Rozukulov, bersama Prof Dr ES Margianti SE, MM, Rektor Universitas Gunadarma, dan Prof Abd Rahman Mas’ud, Ph.D., Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI,” kata dia.

Nani mengatakan, pameran dan seminar yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia ini diharapkan akan membuka wawasan masyarakat Indonesia tentang negeri di Asia Tengah dengan banyak peninggalan peradaban Islam.

Beri Komentar