Anies Baswedan Baca Buku 'How Democracies Die', Netizen Sebut Ada Kode

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Minggu, 22 November 2020 15:12
Anies Baswedan Baca Buku 'How Democracies Die', Netizen Sebut Ada Kode
Buku tersebut mengisahkan tentang kematian demokrasi akibat pemimpin otoriter.

Dream - Gurbernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memperlihatkan aktivitasnya di Minggu pagi, 22 November 2020. Ia mengunggah potret terbaru ke laman resmi Instagram @aniesbaswedan.

Dalam unggahan tersebut, Anies tampak sedang bersantai sambim membaca sebuah buku.

" Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," sapa Anies di Instagram.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan)


Pria 51 tahun itu terlihat sedang membaca buku bertajuk 'How Democracies Die' karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, dua profesor Ilmu Politik dari Harvard University.

Buku setebal 320 halaman itu diterbitkan pada 2018 lalu dan menceritakan tentang kematian demokrasi karena terpilihnya para pemimpin otoriter.

Ziblatt dan Levitsky menyebutkan demokrasi dapat mati perlahan-lahan karena kudeta. Secara tidak disadari, pemimpin otoriter melakukan penyalahgunaan kekuasaan pemerintah.

Unggahan tersebut telah disukai oleh 174 ribu pengguna dan menuai komentar warganet.

" Salfok sama judul buku nya," kata @suratno_23

" Bukunya ky kode gtu ya...." celetuk @radityaputra1108

" Luar biasa. Kode keras," ucap @akbar_salam1

" Masya Allah judul bukunya mantap sekali," timpal @ekobambangf

1 dari 4 halaman

33 Pertanyaan Polisi untuk Anies Baswedan Setebal 23 Halaman

Dream - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memenuhi panggilan Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan terkait dugaan pelanggaran protokol kesehatan berupa kerumunan di acara Habib Rizieq Shihab. Anies mengaku mendapat 33 pertanyaan selama menjalani pemeriksaan.

" Semuanya sudah dijawab sesuai dengan fakta yang ada, tidak ditambah, tidak dikurangi," ujar Anies, dikutip dari Liputan6.com.

Tetapi, Anies enggan membeberkan rincian pertanyaan itu. Dia menyebut keterangannya sudah dituangkan dalam laporan setebal 23 halaman.

" Detil isi pertanyaan, klarifikasi, dan lain-lain biar nanti menjadi bagian dari pihak Polda Metro Jaya untuk nanti meneruskan dan menyampaikan sesuai kebutuhan," kata Anies.

 

2 dari 4 halaman

Dugaan Pidana

Terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Brigjen Awi Setiyono, mengatakan kepolisian telah memanggil sejumlah pihak untuk dimintai keterangan terkait penyelenggaraan acara Rizieq yang menimbulkan kerumunan.

Pemeriksaan tersebut untuk menemukan benang merah terkait dugaan yang mengarah tindak pidana.

" Mengarahnya adalah peristiwa pidana, apa yang sudah terjadi. Ini yang dilakukan penyidik Polda Metro Jaya yang saat ini melakukan klarifikasi terhadap orang-orang yang mengetahui, melihat, mendengar langsung kejadian tersebut, mengalami langsung kejadian tersebut, maka dipanggil," kata Awi.

Penyidik, kata Awi, akan menggali keterangan dan mengumpulkan alat bukti. Setelah itu, penyidik akan melakukan gelar perkara.

" Dari klarifikasi tersebut, penyidik akan melakukan gelar perkara, dari hasil penyelidikan ini apakah cukup adanya bukti permulaan untuk dinaikkan ke penyidikan, kita sama-sama tunggu," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro

3 dari 4 halaman

Anies Baswedan Jalani Pemeriksaan, Ini yang Akan Diklarifikasi Polisi

Dream - Polda Metro Jaya akan melakukan pemanggilan kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan hari ini (Selasa, 17 November 2020) sekitar pukul 10.00 WIB. Anies diminta memberikan keterangan terkait pelanggaran protokol kesehatan berupa munculnya kerumunan pada acara yang digelar Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab.

" Kita klarifikasi untuk kegiatan yang sudah dilakukan, kita klarifikasi saja untuk status sebenarnya," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat, Selasa 17 November 2020.

Surat pemanggilan Anies bernomor B/19925/XI/RES.1.24/2020/Ditreskrimum tanggal 15 November 2020. Pemeriksaan terhadap Anies dijadwalkan berlangsung di ruang Unit V Sub Direktorat Keamanan Negara (Subditkamneg) Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono, menyatakan tindakan Anies berpotensi pidana namun perlu diklarifikasi dulu. Sementara dugaan peraturan yang dilanggar adalah Undang-undang Kekarantinaan Kesehatan.

" Kita akan lakukan klarifikasi dengan dugaan tindak pidana Pasal 93 UU RI Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan," ucap Argo, dalam konferensi pers pada Senin kemarin.

Pasal 93 UU Karantina Kesehatan memuat ketentuan pidana bagi phak yang menghalangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan hingga menyebabkan kedaruratan kesehatan. Ancamannya yaitu pidana penjara paling lama satu tahun dan/atau denda paling banyak Rp100 juta.

4 dari 4 halaman

Jawaban Anies

Anies sendiri memberikan pernyataan terkait gelaran yang diselenggarakan Rizieq. Dia menyatakan tidak tinggal diam karena berpotensi menciptakan kerumunan. Anies mengaku telah mengirimkan surat ke Wali Kota Jakarta Pusat agar memberikan peringatan pada kegiatan yang digelar Rizieq.

" Kemarin, Wali Kota Jakarta Pusat mengirimkan surat mengingatkan bahwa ada ketentuan yang harus ditaati dalam kegiatan-kegiatan," kata dia.

Anies menyayangkan surat tersebut tidak dihiraukan Rizieq. Sehingga acara pada Sabtu malam tersebut tetap digelar sehingga menimbulkan kerumunan.

Anies pun langsung bertindak dengan menjatuhkan denda Rp50 juta kepada Rizieq. Ini karena Rizieq dinilai sudah melanggar protokol kesehatan.

" Rp50 juta itu membentuk perilaku, karena begitu orang dengan Rp50 juta, beda perilakunya dengan sanksi Rp50 ribu-Rp200 ribu," ucap Anies.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar