Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Keluarga Korban Lion Air (Foto: Merdeka.com/Yunita Amalia)
Dream - Sejak senin pukul 23.30 WIB, Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, telah menerima 24 kantong jenazah korban pesawat Lion Air JT610.
Meski begitu, jumlah kantong jenazah tidak secara otomatis menandakan jumlah jenazah yang berhasil dievakuasi.
Wakil Kepala Polri Komjen Pol Ari Dono menjelaskan upaya pencarian jenazah korban baru berhasil menemukan potongan-potongan tubuh saja, belum ditemukan jenazah utuh.
" Satu kantong jenazah bisa beberapa jenazah karena memang kondisi korban kita temukan dalam keadaan sudah hancur," kata Ari seperti dikutip dream dari merdeka.com.
Sejumlah keluarga korban yang datang ke RS Polri harus menunggu perihal kepastian keadaan jenazah keluarganya yang ikut dalam penerbangan JT610.
Salah satunya adalah seorang remaja 14 tahun yang datang karena ingin menjemput jasad ibundanya.
Remaja perempuan itu terlihat lesu, sesekali menyeka air mata menanti jawaban si petugas mengenai kondisi sang ibu.
Ia datang ditemani oleh kakak dan bibinya. Mereka terus menanyakan jasad atas nama Dia Damayanti yang diduga menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang.
" Kita buka-bukaan aja deh pak, jasadnya utuh atau tidak. Kami hanya butuh kepastian itu saja," Tanya perempuan berkerudung kepada petugas jaga Rumah Sakit Polri.
Petugas hanya menghela nafas panjang, menjelaskan dengan hati-hati.
" Kita belum tahu kondisi seperti apa, tunggu pemeriksaan selesai ya," ujar si petugas dengan raut wajah tenang.
Jarum jam pun terus bergerak. Tak terasa sudah lima jam mereka menanti sejak pertama kali datang pukul 5 subuh. Jawaban yang diberikan petugas tak kunjung berubah.
Tidak ada penjelasan kondisi para korban. Termasuk sudah ditemukan atau belumnya jasad sang ibu.
" Kita sudah ikhlas pak lillahi ta'ala keluarga kita, adik saya sudah tidak ada. Kami hanya mohon sangat, agar pemeriksaan jenazah bisa selesai," ujar sang bibi.
" Kami di rumah juga bingung mau ngapain lagi. Kita mau kejelasannya pak, biar kami bisa bawa pulang (jenazah korban)," ucap sang bibi.
" Bapaknya ini (bocah perempuan) enggak karu-karuan pak. Nangis, kaget, enggak kuat dia ke sini. Makanya dia minta kejelasan gimana kondisi korban," Jelas sang Bibi kepada petugas.
Terlihat sang bibi yang beberapa kali berupaya mengarahkan agar si bocah berusaha tegar saat hendak menyampaikan kabar ke ayahnya perihal kondisi di RS Polri lewat sambungan telepon.
Si bocah hanya diam, bingung apa yang harus ia sampaikan ke sang ayah yang masih kaget istrinya menjadi daftar penumpang atas peristiwa nahas Senin 29 Oktober Kemarin.
" Kami buntu mbak, tidak tahu harus apa. Kami ingin cepat kejelasan keluarga kami. Ayahnya sampai sekarang masih belum percaya, masih kaget kalau istrinya jadi korban, Terus-terusan nangis."
" Kita kasihan kalau kita pulang dia tanya mana jasadnya, gimana kondisinya, kalau enggak ada, dia minta kami balik lagi. Kasihan sekali kami lihatnya," ujar salah seorang saudara bocah remaja itu yang turut mengantar.
Lewat anaknya, keluarga dari Dia Damayanti mengungkapkan telah melakukan semua pemberkasan untuk kebutuhan pemeriksaan DNA. " Tadi diambil sampel dua lembar rambut, sama darah," ujar saudara korban.
" Ibunya (korban) ke Pangkal Pinang sendiri untuk urusan kerja," katanya.
Hingga pukul 10.15 WIB rombongan keluarga Dia pergi meninggalkan instalasi forensik RS Polri. Terlihat, pria mengenakan tanda pengenal Nindya Karya mendampingi keluarga korban.
" Iya dia kerja di Nindya Karya," ujar keluarga korban.
(Sah, Sumber: Merdeka.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya