Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Instagram @DaryonoBMKG
Dream - Terjadi 7 rentetan gempa pada Selasa 7 Juli 2020 di beberapa daerah. Setidaknya, tiga provinsi yakni Jawa Tengah, Banten, dan Jawa Barat diguncang gempa kemarin.
Gempa pertama terjadi di Jepara, Jawa Tengah pukul 05.54 WIB dengan kekuatan M 6.1. Gempa kedua pukul 11.44 WIB di Selatan Banten dengan kekuatan M 5.1.
Gempa ketiga, berkekuatan M 5.0 terjadi di Selatan Garut (Pangandaran) pada pukul 12.17 WIB. Gempa terakhir pukul 13.16 WIB dengan kekuatan M 5.2 terjadi di Selat Sunda.
Lalu, apakah empat gempa itu saling berkaitan satu sama lain? Meski berada di tiga provinsi berbeda, apakah rentetan gempa itu saling memicu?
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono mengungkap fakta-fakta di balik rentetan gempa itu.
Dikutip dari akun Instagram @DaryonoBMKG, berikut beberapa fakta terkait rentetan gempa 7 Juli 2020:
" Gempa yang terjadi secara beruntun pada hari ini Selasa 7 Juli 2020 tidak memiliki kaitan dengan gempa yang terjadi sebelumnya. Baik Gempa Laut Jawa di utara Jepara berkekuatan M 6.1 yang terjadi pagi dinihari pukul pukul 05.54.44 WIB, Gempa Selatan Banten M 5.1 pukul 11.44.14 WIB, Gempa Selatan Garut (Pangandaran) M 5.0 pukul 12.17.51 WIB, dan Gempa Selatan Selat Sunda M 5.2 pada 13.16.22 WIB berada pada sumber gempa yang berbeda, kedalaman yang berbeda, dan juga berbeda mekanismenya," tulis Daryono.
Daryono melanjutkan, apa yang terjadi di beberapa wilayah gempa merupakan manifestasi pelepasan medan tegangan pada sumber gempa masing-masing.
Masing-masing sumber gempa mengalami akumulasi medan tegangan sendiri-sendiri, mencapai stress maksimum sendiri-sendiri, hingga selanjutnya mengalami rilis energi sebagai gempa juga sendiri sendiri.
" Ini konsekuensi logis daerah dengan sumber gempa sangat aktif dan kompleks. Kita memang memiliki banyak sumber gempa, sehingga jika terjadi gempa di tempat yang relatif berdekatan lokasinya dan terjadi dalam waktunya yang relatif berdekatan maka itu hanya kebetulan saja," tulisnya lagi.
Masih kata Daryono, apakah rentetan gempa ini sebagai pertanda akan terjadi gempa besar?
Menurutnya hal ini sulit diprediksi, tetapi rentetan aktivitas gempa ini patut diwaspadai. Karena dalam ilmu gempa atau seismologi, khusunya pada teori tipe gempa itu ada tipe gempa besar yang kejadiannya diawali dengan gempa pendahuluan atau gempa pembuka.
" Setiap gempa besar hampir dipastikan didahului dengan rentetan aktivitas gempa pembuka. Tetapi rentetan gempa yang terjadi di suatu wilayah juga belum tentu berakhir dengan munculnya gempa besar. Inilah karakteristik ilmu gempa yang memiliki ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi yang penting juga untuk kita pahami," imbuhnya.
Ia juga menyikapi banyaknya pertanyaan masyarakat apakah gempa yang terjadi di Banten Selatan dan Selatan Garut (Pangandaran) bersumber dari sumber gempa yang sama?
Ia memastikan kedua gempa tersebut bersumber dari sumber gempa yang berbeda.
Gempa Banten selatan, sebutnya, terjadi akibat adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Benioff di kedalaman 87 kilometer, sementara gempa selatan Garut dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Megathrust.
" Jadi kedua gempa ini sumber gempanya berbeda," ujar Daryono.
Ia juga mencatat, guncangan gempa Magnotudo 5.1 yang bersumber di Banten Selatan sangat dirasakan di Jakarta karena adanya fenomena efek tapak (local site effect), dimana efek soft sedimen/tanah lunak yang tebal di Kota Jakarta memicu terjadinya resonansi gelombang gempa.
Alhasil, guncangan gempa diamplifikasi, diperbesar guncangannya senhingga wilayah Jakarta sangat merasakan gempa tersebut.
" Dalam teori gempa disebutkan bahwa dampak gempa tidak saja akibat magnitudo gempa dan jaraknya dari sumber gempa, tetapi kondisi geologi setempat sangat menentukan dampak gempa," pungkasnya.
(Sumber: Instagram @DaryonoBMKG)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang