Deretan Fakta Remaja Bunuh Bocah di Sawah Besar

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Minggu, 8 Maret 2020 10:59
Deretan Fakta Remaja Bunuh Bocah di Sawah Besar
Yang terakhir bikin tercengang.

Dream – Seorang remaja menggegerkan publik setelah mengaku telah membunuh anak berusia 6 tahun. Terlebih, pelaku mendatangi kantor polisi untuk mengakui perbuatannya.

Dikutip dari Merdeka.com, Minggu 8 Maret 2020, pelaku mendatangi Polsek Taman Sari, pada Sabtu 7 Maret 2020. Pelaku berinisial NF mengaku membunuh korban dan menyimpan mayatnya di dalam lemari.

Berikut ini sederet fakta tentang pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku.

1 dari 5 halaman

Hasrat Itu Muncul Saat...

Kabid Humas Polda Metro Jakarta, Kombes Yusri Yunus mengatakan, menurut pengakuan NF dirinya memiliki hasrat untuk membunuh seseorang.

Hasrat tersebut membuncah kala rumah NF kosong dan di saat yang bersamaan ada korban yang main ke kediamannya di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat.

" Timbul rasanya ingin membunuh dan pada saat melihat korban, korban dipanggil untuk diambilkan mainan di bak mandi," kata Yusri.

Akhirnya karena sudah terbiasa bermain di sana, korban menuruti permintaan pelaku. Yusri menerangkan, karena akan basah-basahan korban pun sempat membuka celananya.

" Pada saat di bak ditenggelamkan sampai lima menitan," kata dia.

2 dari 5 halaman

Mulut Disumpal

Pelaku menyumpal mulut korban dengan dua jari saat menenggelamkan korban. Tujuannya agar korban tidak berteriak. Ini membuat mulut korban mengalami pendarahan.

" Lalu diangkat dimasukkan ke dalam ember, lalu ditutup pakai seprai," kata Yusri.

Setelah itu ada niatan ingin membuang mayat korban, namun NF merasa takut akan ketahuan. Berhubung di daerah itu sempit dan padat akan penduduk.

3 dari 5 halaman

Sembunyikan Mayat Korban

Pada Kamis malam, 5 Maret 2020, NF akhirnya membawa korban yang berada di ember tersebut ke kamarnya dan dimasukkan ke dalam lemari. Korban yang masih di dalam ember itu pun diikat serta disumpal mulutnya dengan tisu. Korban ditutupi dengan pakaian di lemari. 

" Malam hari dia masih tidur di kamar. Besok pagi dia berangkat sekolah kemudian dia membawa baju biasa," kata Yusri.

Baru setelah Jumat pagi, 6 Maret 2020, NF mengaku kepada polisi bahwa dirinya telah membunuh seorang bocah.

Awalnya polisi tidak mempercayai atas pengakuan pelaku. Namun polisi pun mengecek ke TKP yang berada di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat dan benar saja, kata Yusri di dalam lemari ada mayat yang tengah diikat.

" Dari Polsek dan Polres mengecek ke TKP ternyata memang betul ada seorang mayat anak perempuan 6 tahun terikat dan mulut disumpal dengan tisu," kata Yusri.

4 dari 5 halaman

Terinspirasi dari Film

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Heru Novianto, mengatakan NF terinspirasi dari adegan kekerasan film. " Pengakuan dari seorang NF dia melakukan dengan kesadaran dan dia terinspirasi oleh film," kata Heru.

Film yang ditonton mengisahkan cara-cara menghilangkan nyawa seseorang. Misalnya, dengan menenggelamkan ke bak mandi. NF menirukan cara ini ke korban.

" Si anak diajak ke kamar mandi lalu disuruh ambil mainan yang ada di dalam. Setelah anak itu berada di dalam bak baru ditenggelamkan hingga korban meregang nyawa," ucap dia.

Heru mengatakan, jasad korban awalnya mau dibuang tapi karena menjelang sore disimpan ke lemari. " Besoknya pas mau buang dia bingung," ujar dia.

Pelaku akhirnya melapor ke Polsek Taman Sari. Kepada polisi, pelaku mengaku telah membunuh. " Kami cek ke dalam lemari ada sosok mayat," ujar dia.

Selan itu, diketahui NF menyukai film bergenre horor-thriller berjudul Chucky dan Slenderman.

5 dari 5 halaman

Sketsa Curahan Hati dan Cerdas

Selain membunuh, ternyata korban juga sempat membuat sketsa. Hal itu terungkap saat usai polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

" Apa yang dia lakukan hari ini sudah tergambar. Ini adalah gambar wanita dengan terikat dengan tulisan Keep calm and give me," ujar Wakapolres Metro Jakarta Pusat, AKBP Susatyo Purnomo.

Susatyo mengatakan pelaku sebenarnya memiliki kecerdasan yang baik. Kemampuan berbahasa Inggrisnya juga terbilang cukup baik. " Dia mengungkapkan berbagai perasaan dalam berbagai tulisan seperti I Hope, dan Please Dont Me Make," kata dia.

Selain olah TKP, Susatyo menerangkan, pihaknya juga telah memeriksa empat orang sebagai saksi. " Semua temuannya akan dihimpun untuk disinkronkan dengan pendapat dari ahli kejiwaan," ujar kata dia. 

Beri Komentar