Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Seorang siswi di SMKN 1 Aik Asok, Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau, dengan inisial AR, memilih putus sekolah. Bukan karena kesulitan ekonomi atau kenakalan namun diduga karena ejekan dari salah satu guru.
Dilaporkan laman Lindungi Anak, peristiwa itu terjadi di pelabuhan usai korban pulang sekolah pada Oktober 2019. Guru mata pelajaran Agama, S, meneriaki AR dengan sebutan pelacur.
Ucapan itu dilontarkan S saat AR dan beberapa kawannya berjalan bersama. Kejadian itu membuat AR terisak dan pulang lalu mengadu ke orang tuanya.
Ibu kandungnya, RM, mengatakan psikologis anaknya terpukul akibat peristiwa tersebut. RM menceritakan kronologi perundungan tersebut.
" Di pelabuhan anak saya duduk membonceng teman laki-lakinya. Motor tersebut punya anak saya, dan teman laki-lakinya baru pandai naik motor. Mereka ngobrol sambil menunggu (kapal) Roro datang. Melihat kondisi seperti itu, gurunya yang juga ada di pelabuhan tersebut langsung meneriaki AR dengan sebutan lonte," kata RM.
Sang ibu mengatakan AR jadi takut ke sekolah. Dia malu dan tertekan secara psikis.
RM mengaku telah mengadukan kejadian ini ke pihak sekolah. Tetapi, guru S justru melawannya. Dengan nada tinggi, S mengusir RM dari ruangan guru.
" Ia juga memukul meja berkali-kali dan tepuk dadanya. Mengusir saya dari ruangan, mau robohkan sekolah, sumpah serapah dengan menyebut nama binatang. Ia juga ancam lapor polisi serta mengancam anak saya dikeluarkan dari sekolah,’’ kata RM.
Tak hanya di situ, ucapan sang guru juga terulang melalui pengeras suara di SMKN 1 Anambas.
Meski kasus ini sempat dimediasi, kondisi RM psikologis tak kunjung membaik sehingga kesulitan mengikuti proses belajar mengajar. Saat diberi kesempatan ujian, nilai rapornya di bawah rata-rata kelulusan.
Karena nilai yang rendah, AR tak bisa pindah sekolah.
Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri, Erry Syahrial, prihatin dengan nasib yang dialami AR. Menurut Erry, korban telah mengalami bully, kekerasan psikis, diskriminasi, dan ditelantarkan.
Dijelaskan Erry, ada beberapa hak anak yang dilanggar pihak sekolah terkait masalah tersebut. ‘’Kami akan memperjuangkan agar AR bisa bersekolah kembali dan mendapatkan perlindungan sebagai anak,’’ ujar dia.
Sementara itu, menurut Erry, Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono menyebut peristiwa di pelabuhan itu terjadi karena ulah siswa.
Dream - Sahabat Dream yang melalui masa-masa sekolah dengan bahagia sudah sepantasnya bersyukur. Tak semua orang seberuntung kamu. Setidaknya ini yang dirasakan bintang film Perempuan Tanah Jahanam, Asmara Abigail.
Pengalaman kurang menyenangkan dialaminya saat menjadi mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Tak hanya dirundung teman-teman kelas karena penampilannya yang berbeda, Asmara Abigail juga merasa di-bully gurunya sendiri.
" Di-bully guru. Tapi di-bully guru lebih ke akademis," cerita Asmara Abigail lewat Liputan6.com.
Setelah mendapat perundungan karena nilai akademis, Asmara Abigail menceritakan teman-teman sekolahnya merundungnya karena memiliki kulit berwarna gelap.
" Tapi kalau fisik lebih sering dibully teman. Biasalah dibilang hitam. Dulu aku kurus banget. Jadi sudah kecil banget, kurus, hitam pokoknya buruk rupalah dianggapnya," ceritanya.
Keadaan tersebut membuat Asmara tidak nyaman selama menjalani masa-masa sekolah. Dia bahkan selalu berharap segera lulus dari sekolahnya itu.

" Dari TK sampai SMA di sekolah yang sama. Jadi aku pengin cepat lulus SMA supaya bisa pilih kuliah yang aku mau, jurusan yang aku mau dan bertemu lingkungan baru," ia menyambung.
Pada akhirnya ia menemukan suasana yang lebih menyenangkan saat menempuh pendidikan di universitas. Ditambah, orangtua Asmara 100 persen membebaskan diri memilih jurusan kuliah.

" Orangtua memang membebaskan untuk pilih kuliah dan jurusan sesuai yang aku mau tanpa membatasi. Jadi aku menunggu bisa lulus dan say goodbye," beri tahu Asmara Abigail.
Meski memiliki cerita kelam, wanita kelahiran 3 April 1992 itu tak latas merasa down sama sekali. Dukungan positif yang selalu didapat dari keluarga dan teman-teman dekat membuatnya berusaha bangkit.
Dengan pemikiran yang semakin dewasa, Asmara kini melihat tindakan keras guru, yang dianggap bully, debfab menyinggung nilai akademis memiliki tujuan yang baik.

Asmara kini memandang sikap gurunya itu dimaksudkan untuk memotivasinya belajar lebih giat lagi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam