Menteri Nadiem Diminta Turun Tangan Kabar Pelarangan Hijab di SD Manokwari

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 9 Desember 2019 11:03
Menteri Nadiem Diminta Turun Tangan Kabar Pelarangan Hijab di SD Manokwari
Kemenag akan mengecek peristiwa ini.

Dream - Anggota Komisi X DPR, Illiza Sa'aduddin Djamal mengecam kabar pelarangan SD Inpres 22 Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Menurut Illiza, tindakan tersebut telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) tentang kebebasan beragama.

Illiza kemudian meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk turun tangan menangani masalah tersebut.

" Kita meminta Kemendikbud ini harus ditegur secara keras dan itu tidak boleh berlaku kan harus ada keadilan kita kan secara berbeda-beda suku tapi kan kita satu," ujar Illisa di kantor DPP PPP, Jakarta, Jumat 6 Desember 2019.

Illisa mengatkan, aturan tersebut pelarangan berjilbab tersebut dianggap dapat merusak nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, serta tidak dibenarkan dalam kehidupan yang majemuk.

" Jadi bagaimana orang yang dikatakan sekolah itu Pancasilais, tentu jauh dari apa yang kita harapkan dari pendidikan itu sendiri," ucap dia.

 Anggota DPR Illiza Sa'adyddub (Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an)

Anggota DPR Illiza Sa'adyddub (Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an)

Illiza yang berasal dari Aceh kemudian membandingkan aturan yang ada di daerahnya. Dia mengatakan, meski Aceh memiliki aturan Islam, namun tidak menerapkannya bagi pemeluk agama lain.

Sementara itu di lokasi yang sama, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi mengaku belum mengetahui perihal masalah tersebut.

" Saya belum mengetahui tentang itu, kami harus mengecek," kata Zainut.

1 dari 4 halaman

Atlet Muslim AS Kritik Prancis Atas Pelarangan Hijab Olahraga

Dream - Atlet anggar Amerika Serikat, Ibtihajj Muhammad, dan sponsor resminya, Nike, mengkritik sikap pemerintah Prancis yang melarang pemakaian jilbab olahraga untuk Muslimah.

Peristiwa itu terjadi ketika retailer Nike di Prancis, Decathlon, menarik hijab buatan produsen alat-alat olah raga asal Amerika Serikat itu karena mendapat ancaman. Peristiwa tersebut terjadi pada Februari 2019.

" Menyedihkan bagiku ketika Perancis tidak bergabung dalam percakapan global mengenai inklusivitas, dan keragaman. Pelarangan terhadap penjualan jilbab olahraga itu memalukan," kata Ibtihajj, dikutip dari Arab News, Rabu 13 Maret 2019.

Prancis rencananya akan menjadi tuan rumah gelaran Piala Dunia Perempuan pada musim panas tahun ini. Sebagai bagian dari agenda besar itu, Nike meluncurkan seragam 14 timnas negara yang bertanding.

Wakil Presiden Nike, Bert Hoyt, mengatakan, Piala Dunia Perempuan di Prancis merupakan peristiwa penting bagi Nike.

" Tujuan kami ialah menyediakan akses bagi seluruh perempuan agar dapat berolahraga dan bermain sepakbola," ujar dia.

2 dari 4 halaman

Satu Orang yang Setuju

Jilbab keluaran Nike memicu reaksi keras di Perancis. Aurore Berge, juru bicara Presiden Emmanuel Macron, menyebut jilbab olahraga bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Prancis.

Ibtihajj tak setuju dengan pendapat itu. Dia berargumen, " Saya pikir Anda bukan seorang feminis seandainya menyebut jilbab bukanlah pilihan."

" Siapa pun yang meyakini hak individu, kebebasan memilih, harus mendukung apa yang dipilihnya," jelas Ibtihajj.

Di pemerintahan Perancis, hanya Menteri Olahraga, Roxana Maracineanu, yang mendukung penjualan jilbab.

" Saya ingin melihat perempuan, ibu, dan anak gadisnya di mana pun mereka berada menggunakan jilbab untuk berolah raga, saya yakin jilbab mendorong emansipasi," kata dia.

3 dari 4 halaman

Larangan Hijab Dicabut, Pebasket Bosnia Gembira

Dream - Federasi Basket Internasional (FIBA) memutuskan mencabut larangan menggunakan hijab bagi pemain muslimah. Pencabutan larangan ini disambut gembira oleh sejumlah pebasket muslimah Bosnia.

" Saya sangat senang. Saya selalu berjuang atas apa yang saya yakini benar," ujar pebasket muslimah profesional Indira Kalijo, 27 tahun, kepada Dogan Agency News, dikutip Dream dari onislam.net, Jumat, 28 Agustus 2015.

Kaljo merupakan atlet warga negara Bosnia yang membela klub basket Jeddah United. Dia adalah salah satu dari tiga pebasket muslimah yang mengkampanyekan pencabutan larangan berhijab saat pertandingan.

Kaljo mengatakan dia sudah dua tahun mengenakan hijab. Saat memakai hijab, banyak orang menentang keputusan Kaljo.

" Itu adalah keputusan pribadi, namun banyak orang menentang saat pertama kali. Saya tetap menikmati karir saya yang gemilang," kata dia,

 

4 dari 4 halaman

Era Baru

Kaljo menceritakan selama ini ketentuan FIBA tidak memungkinkan bagi atlet muslimah memakai hijab. Sehingga, menurut dia, pencabutan larangan tersebut menjadi harapan baru bagi pebasket muslimah untuk bisa menjalankan ajaran Islam.

" Saya akan selalu berjuang membela hak-hak muslimah. Saya selalu berjuang atas apa yang saya aykin dan akan memulai kampanye pencabutan larangan berhijab pada internet," ungkap dia.

Pencabutan larangan tersebut belum berlaku sepenuhnya. FIBA masih membutuhkan waktu dua tahun sebagai masa uji coba sebelum pencabutan tersebut berlaku penuh.

Meski demikian, Kaljo menilai akan ada era baru dalam dunia basket wanita. Pencabutan larangan ini, menurut dia, harus dirayakan.

" Bulan ini, kami merayakan untuk pertama kali keputusan tersebut. Kita akan banyak melihat banyak pemain memakai hijab mulai sekarang dan di masa mendatang. Ini sangat memuaskan," terang Kaljo.

Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya