Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ine Widianti, Lulusan SMK Di Karawang Yang Ijazahnya Ditahan Lantaran Belum Lunas Bayar Sekolah. (Foto: Liputan6.com/Abramena)
Dream - Menempuh pendidikan kerap menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan derajat ekonomi keluarga.
Tapi, langkah itu kerap terganjal. Ada beberapa orang yang menghadapi diskriminasi dari lingkungan pendidikan.
Salah satu kisah itu dirasakan Ine Widiarti, 17 tahun. Sejak lulus di SMK Lentera Bangsa, ijazah miliknya ditahan sekolah.
Kondisi ini lantaran Ine belum membayar uang tunggakan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp5,585 juta.
Tunggakan itu, kata dia belum bisa dilunasi karena faktor ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
" Sejak lulus sekolah, ijazah masih ditahan pihak sekolah karena masih ada kewajiban yang belum lunas," kata Ine, di rumahnya, Dusun Cikangkung Tinir, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang, dilaporkan Liputan6.com, Minggu, 8 Desember 2019.
Ine saat ini tinggal di rumah reyot dengan tiga penghuni. Dia tinggal dengan ibunda dan adiknya.
Kondisi rumah itu menggunakan bilik bambu yang sudah bolong dan lantainya yang terbuat dari tanah.
Ibunda Ine, Rani tentu saja punya keinginan yang besar anaknya mendapatkan ijazah setelah bersekolah selama tiga tahun. Ijazah itu akan digunakan untuk melamar pekerjaan.
" Belum bisa melunasi tunggakan ke sekolah karena saya orang miskin," ucap Rani.
Sehari-hari, Rani jualan sayuran keliling kampung. Penghasilannya pun tak menentu. Paling tinggi, sehari ia memperoleh Rp50 ribu dan langsung habis untuk makan sehari-hari.
" Pengahasilan tidak pasti, keuntungan penjualan buat makan bertiga," dia menuturkan.
Kepala Sekolah SMK Lentera Bangsa, Ahkmad Jaelani, menampik menahan ijazah salah satu lulusannya. Sebab, dia mengakui, sekolah tidak boleh menahan ijazah.
Tapi di sisi lain, dia pun mengakui masih ada kewajiban siswi bernama Ine Widiarti yang masih belum diselesaikan hingga ijazahnya masih tertahan. " Sekolah tidak menahan ijazah,namun masih ada kewajiban yang harus diselesaikan," kata Akhmad.
Dia mengaku tidak hapal persis nilai kewajiban yang mesti dilunasi. Tetapi sejak keluar lulus sekolah, seharusnya orangtua dan anak datang ke sekolah untuk membicarakan dan menyelesaikan persoalan ijazah.
Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya