Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Masyarakat Yang Patuh Protokol Kesehatan (Foto: Liputan6.com)
Dream – Lonjakan kasus positif Covid-19 pasca libur panjang Oktober 2020 lalu jadi pelajaran bagi masyarakat untuk menahan diri keluar rumah. Diketahui aktivitas libur panjang berdampak domino pada melonjaknya angka positif dan kematian akibat Covid-19.
Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dr Dewi Nur Aisyah mengatakan satu pekan pasca libur panjang bulan Oktober kemarin, angka kematian akibat Covid-19 mingguan memang sempat menurun. Namun kemudian mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
“ Kemudian dia naik, tetapi kenaikannya juga sangat signifikan,” ucap dr Dewi salam dialog yang digelar di Graha BNPB Jakarta, Rabu (16/12/2020) kemarin.
Berangkat dari data yang ditunjukkan, dr Dewi menyampaikan pada 28 Oktober sampai 3 November, di mana terjadi libur panjang, angka kematian mingguan sebesar 634 orang. Jumlah tersebut mengalami penurunan menjadi 615 pada tanggap 4 hingga 10 November 2020.
Angka fluktuatif kematian akibat Covid-19 mingguan melonjak mulai 18 sampai 24 November menjadi 718 jiwa, hingga 970 pada 25 November hingga 1 Desember. Kemudian berada di angka 919 pada 2 sampai 8 Desember.

Dewi menyebutkan terdapat beberapa alasan yang kemungkinan menjadi penyebab melonjaknya angka kematian akibat Covid-19 beberapa pekan usai libur panjang Oktober 2020. Pertama adalah kemungkinan terlambatnya pelaporan dan pemeriksaan.
Penyebab yang kedua, masih menurut dr Dewi, jumlah orang sakit tidak bisa langsung sembuh dalam waktu singkat.
“ Untuk pemeriksaan yang positif, bertambahnya bisa cepat, namun yang dirawat punya gejala sedang sampai berat, berbanding dengan yang ringan, ini kan juga berbeda,” jelasnya melalui siaran di kanal YouTube BNPB Indonesia.
Ia menjelaskan libur panjang sejatinya tidak berkontribusi secara langsung pada peningkatan kasus Covid-19.
“ Kalau misalnya libur tetapi di rumah saja, tidak kemana-mana, ya sebenarnya tidak ada masalah. Tapi ketika ada mobilitas, ada kerumunan, ada ketidakpatuhan, maka muncul penularan,” imbuhnya.

Dr Dewi juga kembali mengingatkan apabila terjadi penularan itu berbanding lurus dengan penambahan kasus infeksi Covid-19 secara signifikan di waktu yang sama.
“ Karena banyak orang yang ke lapangan, mungkin ke tempat wisata, terjadi peningkatan penularan dan terjadi penambahan kasus tapi tinggi sekali jumlahnya,” ucapnya.
Sementara itu, lanjut dr Dewi, kapasitas pelayanan kesehatan turur berpengaruh apabila terjadi lonjakan kasus orang yang dirawat karena Covid-19. Hal ini berdampak juga pada ketersediaan tempat tidur di perawatan kritis, ventilator, dan ICU.
“ Ketika orang yang datang adalah orang dengan gejala berat, ini yang akan sulit. Selain itu efek domino juga dapat berdampak pada beban tenaga kesehatan,” ucapnya.
Terkait dengan melonjaknya kasus kematian, ada beberapa hal yang berpengaruh yakni kapasitas pelayanan kesehatan, karakteristik pasien, usia, jumlah dan jenis komorbid serta kecepatan penanganan.
Apabila terjadi beban pada pelayanan kesehatan, tentu saja kecepatan penanganan pun dapat ikut terpengaruh sehingga meningkatkan risiko terlambatnya penanganan pasien Covid-19.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya