JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Retakan Di Benua Antartika (telegraph.co.uk)
Dream - Gunung es, yang beratnya diperkirakan sekitar satu triliun ton, lepas dari Antartika dan mengambang di lautan. Gunung es ini dipercaya berukuran terbesar yang pernah ada.
Para peneliti yang memantau retakan besar di sisi barat Antartika menyatakan luas gunung es itu sekitar empat kali luas London atau seperempat luas wilayah Wales. Gunung es itu awalnya tergabung di seksi Larsen C.
Para ilmuwan menyatakan pada Rabu kemarin akhirnya retakan benar-benar terpisah, menyebabkan area es seluas 2.200 mil persegi (5.800 kilometer persegi) mengapung.
Laman iTelegraph melansir, gunung es itu mengurangi ukuran seksi Larsen C sebanyak 12 persen dan akan mengubah bentangan Benua Antartika selamanya, menurut tim proyek Midas yang dipimpin Universitas Swansea.
Gunung es, yang sekarang dinamai A68, memisahkan diri antara Senin dan Rabu lalu. Retakan terakhir terdeteksi dari data instrumen satelit Aqua MODIS NASA.
" Kami telah mengantisipasi kejadian ini selama beberapa bulan, dan sangat terkejut mengetahui seberapa lama waktu yang dibutuhkan agar retakan itu memisahkan beberapa kilometer es," ujar Profesor Adrian Luckman dari Universitas Swansea.

Luckman mengatakan, timnya akan melanjutkan pemantauan dampak peristiwa ini. Juga terus memantau kondisi seksi Larsen C dan gunung es yang terpisah itu.
" Gunung es itu merupakan yang terbesar yang pernah ada dan masa depannya sulit diprediksi. Mungkin hanya ada satu potong tapi akan terpecah menjadi beberapa fragmen," kata Luckman.
" Sebagian es akan berada di area asal dalam beberapa dekade ke depan, sementara sebagian lainnya bisa mengapung hingga ke utara ke lautan yang lebih hangat," ucap Luckman melanjutkan.

Meskipun beratnya sekitar satu triliun ton, gunung es ini tidak memberi dampak pada lautan karena sudah mengambang sebelum terpisah. Para peneliti mengatakan kejadian ini merupakan peristiwa alamiah karena lapisan es tersebut berada pada posisi yang rentan.

Ada kekhawatiran Larsen C akan seperti Larsen B yang hancur pada 2002 lalu setelah sejumlah kejadian.
" Meskipun ini merupakan peristiwa alamiah, dan kami tidak khawatir akan dampak yang muncul terhadap perubahan iklim yang disebabkan manusia, ini menempatkan lapisan es pada posisi yang sangat rentan," kata ahli glasiologi Universitas Swansea yang juga anggota tim proyek Midas, Dr Martin O'Leary.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
