Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Credit: Adira Finance
Siapa yang tak bahagia jika bisnis yang dirintisnya sukses, bahkan menjadi juara pertama untuk acara sekelas Festival Kreatif Lokal? Hal inilah yang dirasakan sekaligus bisa dijadikan panutan dari Dekardekor Shop. UMKM satu ini didapuk para juri sebagai juara pertama kategori Kriya pada Kreatif Lokal Award 2020.
Pengalaman berharga yang didapatkan oleh Muhammad Ikhwan Tariqo selaku pemilik Dekardekor Shop pun turut disampaikan dalam acara puncak Konser Amal Kreatif Lokal. Pada kesempatan itu, Ikhwan mengungkapkan jika dampak positif yang diterima oleh Dekardekor Shop setelah acara tersebut lebih disorot oleh media.
" Banyak eksposure dari media, makin banyak yang tahu Dekardekor Shop usai jadi jawara," ungkap Ikhwan.

Sebelum memutuskan fokus menjalankan usahanya, Ikhwan yang juga penyandang disabilitas mengungkapkan jika ia pernah bekerja di sebuah bank. Di sana ia merasa tak nyaman, sembari perlahan memulai usaha.
" Kenapa saya pilih jadi pengusaha, lepas kuliah 2011, saya memilih kerja di bank swasta, apalagi kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas tidak begitu banyak, jadi tak saya sia-siakan terlebih dulu. Kemudian, bekerja selama 4 tahun, saya tak nyaman, karena yang dilakukan di sana bukan pekerjaan yang saya inginkan," ungkapnya.
Ia melanjutkan pada tahun 2014 akhir, ia berpikir untuk mulai usaha tanpa keluar dari pekerjaan utama terlebih dulu. " Ketika penghasilan saya lebih banyak dari pekerjaan utama, akhirnya saya putuskan resign. Jadi, jangan gegabah, perlu dipertimbangkan matang-matang. Apalagi di era digital, teman-teman bisa sambil kerja, sambil usaha, jangan tinggalkan pijakan utama ke pijakan lain," ungkapnya.
" Itu juga tidak mudah, karena saya tunanetra, banyaklah tantangan. Ketika mindset saya terbuka, saya berkolaborasi, saya mempercayakan skill apa yang saya tak bisa kepada orang lain yang tepat. kalau tak punya budget untuk menggaji, bisa bagi hasil dengan rekanan. Pokoknya yang harus disadari, era sekarang adalah era kolaborasi, bukan sekadar kompetisi," sambungnya menjelaskan.

Berbeda dengan beberapa orang lain yang mengawali usaha dengan menciptakan barang dulu, pengalamannya di dunia digital marketing justru membuat Ikhwan lebih memiliki tempat jualannya.
" Saya percaya setiap barang ada pembelinya, tak semua orang bisa mencari pasarnya. Jadi kita balik mindset-nya, jadilah Dekardekor Shop ini," imbuhnya.
" Awalnya suka belajar, suka ulik, gabung komunitas, marketplace, lalu temukan barang apa nih yang bisa dibuat, tanpa skill khusus tanpa membuatnya, tinggal cari barangnya, karena promosinya sudah ada. Kita ambil dulu dari teman, karena saya awalnya tak punya modal, lalu dipromosiin sendiri, melihat potensi pasar lalu dikolaborasikan dengan digital marketing, baru jualan," jelas Ikhwan menuturkan bagaimana awalnya ia memulai usaha ini.
Adapun produk Dekardekor Shop sendiri, berupa produksi hiasan dinding dari bahan kulit kayu. " Kita menyediakan desain yang bisa disesuaikan dengan ruangan konsumen, bisa untuk rumah, apartemen atau restoran, sesuai tema ruangan konsumen, makanya namanya dekardekor shop karena bisa disesuaikan keinginan teman-teman," jelasnya.

Lebih lanjut, Ikhwan menjelaskan jika dalam berbisnis di bidang kriya harus betul-betul mengetahui polanya. Umumnya, tren penjualan akan turun di awal tahun, lalu naik lagi sejak puasa, hingga mencapai puncaknya saat momen hari belanja nasional tiba.
" Selain itu, bedakan buyer dan user. Misalnya, kalau susu, buyer-nya adalah ibu-ibu, tapi user-nya anak-anak. Jadi fokus promosinya adalah menggaet susu yang bisa mencerdaskan anak, agar ibu-ibu mau beli. Bukan sekadar manis, karena anak-anak tak mungkin membeli sendiri. Jadi, target pasar harus dipetakan dengan jelas," imbuhnya.
Di akhir kesempatan, Ikhwan sekali lagi juga menekankan pentingnya berkolaborasi dalam merintis usaha. " Manfaatkan komunitas, dengan melakukan sesuatu secara kolaboratif hasilnya akan beda, daripada melakukannya sendiri," pungkasnya.
Konser Amal Kreatif Lokal bukan hanya menyajikan bincang-bincang bersama para pemenang Kreatif Lokal Award 2020, tetapi juga menghadirkan workshop bersama para ikon kreatif, seperti Chef Yuda Bustara, Leka Putra dan Nonita Respati. Selain itu, sederet artis ternama, seperti Enda dan Oncy UNGU, Denny Caknan dan Siti Badriah juga ikut memeriahkan. Di samping itu, acara tersebut juga mengadakan penggalangan dana untuk membantu para pelaku UMKM yang terdampak Covid-19.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya