Hepatitis Akut Misterius pada Anak, Gejala dan Pencegahan

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 16 Mei 2022 18:51
Hepatitis Akut Misterius pada Anak, Gejala dan Pencegahan
Penyakit itu sudah masuk ke Indonesia. Orang tua wajib waspada.

Dream - Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah kasus hepatitis akut parah misterius yang tidak diketahui asalnya pada anak-anak telah dilaporkan oleh banyak negara. Ini telah terdeteksi di beberapa negara termasuk Inggris dan Irlandia Utara, Spanyol, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Pada 21 April 2022, setidaknya 169 kasus hepatitis akut misterius telah dilaporkan dari 11 negara di wilayah Eropa dan Amerika. Kasus telah dilaporkan di Kerajaan Inggris dan Irlandia Utara (Inggris Raya) sebanyak 114 kasus, Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (< 5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Prancis (2), Rumania (1), dan Belgia (1).

Kasus ini menimpa anak-anak yang berusia di antara 1 bulan hingga 16 tahun. Tujuh belas anak atau sekitar 10% membutuhkan transplantasi hati; dan setidaknya satu kematian telah dilaporkan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut misterius pada anak ini pada 15 April 2022.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah meningkatkan kewaspadaan setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUP Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM) Jakarta, dengan dugaan hepatitis akut misterius,  meninggal dunia.

Sampai tanggal 9 Mei 2022, menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia sudah mencatat 15 kasus hepatitis akut dan 5 orang di antaranya meninggal dunia.

Kini banyak pertanyaan yang muncul dari benak publik. Berikut jawaban WHO dan Kementrian Kesehatan RI tentang hepatitis akut misterius yang kini menyebar.

Apa itu hepatitis akut?
Ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peradangan akut pada hati. Ini dapat disebabkan oleh berbagai penyebab infeksi dan non-infeksi. Ada tiga jenis utama hepatitis virus akut: hepatitis A, B dan C. Hepatitis virus D dan E lebih tidak biasa, terutama di lingkungan berpendapatan tinggi.

Apa yang membuat hepatitis akut ini menjadi penyakit tidak biasa?
Hepatitis akut yang parah jarang terjadi pada anak kecil. Laporan awal kemungkinan peningkatan kasus berasal dari Skotlandia. Ini kemudian menyebabkan peringatan dan ditemukan di tempat lain seperti di Inggris dan secara global, ketika orang-orang kemudian mencari dan menemukan lebih banyak kasus.

Apa yang diketahui sejauh ini adalah bahwa virus umum yang menyebabkan hepatitis virus akut belum terdeteksi pada pasien. Juga, perjalanan internasional atau hubungan ke negara lain, berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, belum diidentifikasi sebagai faktor terpenting penularan.

Apakah perlu dikhawatirkan?
Kejadian ini harus ditanggapi dengan serius, meskipun merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Pekerjaan lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi kasus baru, baik di negara yang saat ini terkena dampak maupun di negara yang belum terkena. Prioritasnya adalah menentukan penyebab penyakit untuk dapat lebih memastikan tindakan tepat untuk pengendalian dan pencegahan.

Apa teori utama tentang penyebab penyakit hepatitis akut ini?
WHO telah bekerja dengan negara dan mitra lain untuk melihat berbagai kemungkinan faktor penyebab. Sejumlah besar jalan masuk sumber penyakit sedang dieksplorasi. Salah satu hipotesis utama penyebabnya adalah adenovirus, yang merupakan sekelompok virus umum yang menyebar dari orang ke orang yang menyebabkan gejala sesak pernapasan, muntah, dan diare pada anak-anak.

Adenovirus, sementara ini merupakan salah satu hipotesis, tidak sepenuhnya menjelaskan tingkat keparahan secara klinis. Ada laporan kasus hepatitis pada anak dengan gangguan sistem imun dengan infeksi adenovirus, namun hal ini jarang menjadi penyebab hepatitis berat pada anak yang sehat.

Faktor-faktor seperti peningkatan kerentanan di kalangan anak kecil setelah tingkat sirkulasi adenovirus yang lebih rendah selama pandemi COVID-19, potensi munculnya adenovirus baru, serta koinfeksi SARS-CoV-2 telah diusulkan oleh peneliti Inggris sebagai faktor yang mungkin sebagai penyebab, dan perlu diselidiki lebih lanjut.

Mungkinkah hepatitis akut ini terkait dengan infeksi COVID-19?
SARS-CoV-2 telah terdeteksi dalam beberapa kasus. Peredaran COVID-19 saat ini pun tersebar luas di masyarakat di banyak negara yang terkena dampak. Namun, potensi kontribusi virus COVID 19 terhadap penyebab klinis hepatitis akut misterius, masih tidak jelas.

Mungkinkah hepatitis akut ini terkait dengan vaksinasi COVID-19?
Tidak ada bukti bahwa hepatitis akut misterius  tersebut terkait dengan vaksinasi. Karena, sebagian besar anak-anak yang terkena dampak penyakit ini belum menerima vaksin COVID-19. Penjelasan menular dan tidak menular lainnya perlu dinilai sepenuhnya untuk memahami dan mengelola risiko.

Hepatitis akut mistrius pada anak© The Brunei Post

Apakah akan terus terjadi peningkatan kasus penyakit ini?
Dengan terus berlanjutnya pemberitahuan tentang kasus-kasus baru yang ditemukan baru-baru ini, bersamaan dengan pencarian kasus yang lebih ekstensif di negara lain, sangat mungkin akan lebih banyak kasus hepatitis akut yang akan terdeteksi. Apalagi penyebabnya belum dapat dikonfirmasi, begitu juga untuk penerapan tindakan pengendalian serta pencegahan yang lebih spesifik.

Apa yang harus diperhatikan orang tua tentang gejala penyakit ini?
Pertama-tama penting untuk ditekankan bahwa ini bukan penyakit umum. Orang tua harus waspada terhadap gejala hepatitis, yang meliputi diare akut, muntah, sakit perut dan penyakit kuning –saat kulit dan bagian putih mata menjadi kuning-- pada anak-anak yang lebih kecil. Sebagian besar anak dilaporkan tidak mengalami demam. Jika khawatir, WHO menyarankan setiap orang tua agar segera menghubungi lembaga pelayanan perawatan kesehatan.

Sementara menurut Kementerian Kesehatan RI, secara umum gejala awal penyakit hepatitis akut adalah mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Selanjutnya, gejala akan semakin berat, seperti air kencing menjadi berwarna pekat seperti teh, dan feses atau kotoran berwarna putih atau kepucatan.

Jika anak mengalami gejala-gejala tersebut, orang tua diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis awal. Jangan menunggu hingga muncul gejala kuning bahkan sampai terjadi penurunan kesadaran pada anak.

Apa yang bisa dilakukan orang tua agar anak terhindar penyakit ini?
Ambil langkah-langkah umum untuk  membantu melindungi anak dari virus. Jadi, setiap orang tua harus mengawasi anak mencuci tangan dengan baik setiap habis menyentuh sesuatu atau sebelum makan dan minum. Dan mendorong pengunaan masker di luar ruangan untuk menjaga kebersihan pernapasan secara  baik. Juga selalu menutup mulut saat batuk atau bersin. Menurut WHO bila ini dilakukan secara bersama-sama, dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit.

Sementara menurut Kementrian Kesehatan RI, perlu dijaga penularan dari saluran pencernaan dan saluran pernafasan.

Pencegahan penularan melalui saluran pencernaan adalah: rajin mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian menggunakan alat makan, dan menghindari kontak dengan orang sakit,

Sedangkan untuk langkah pencegahan melalui saluran pernafasan: tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19 dengan selalu memakai masker ketika berada di luar ruangan, menjaga jarak dan mengurangi mobilitas. (eha)

Sumber: Euro WHO, WHO International, Kementrian Kesehatan RI


Beri Komentar